Syair Kemanusiaan Buat Para Pekerja Putih-Putih
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
aku mengenalmu lewat malam yang menjadi bagian dinasmu,
aku juga mendengar keluhmu lewat diam tatapanmu,
keluhmu dipeluh tak berpenghujung,
di setiap airmata kegundahan,
haru menjadi selimut,
menunggu fortuna berpihak,
di ranting-ranting desahan kata nurani,
katakanlah……sampai keujung dunia,
katakanlah……sampai ajal merenggut,
katakanlah……sampai nurani tak berkata,
di pijakan bumi yang berpihak, kan ada nada di senandung perjalanan panjang.
aku mengenalmu lewat sore yang gerah,
aku juga melihat kusam mata batinmu,
katakan padaku…di seiring denyut nadi yang masih ada
di detak jantung yang masih menyapa,
di derasnya darah mengalir untuk suatu pengabadian,
seragam kita adalah sama,
nurani kita juga sama,
lalu apa yang membedakan kita?
lalu apa yang membuatmu juga bagiku tak berdaya,
di remuk tulang tak berbentuk?
ketika tuan menancapkan belati di dada ini,
aku tak menangis, sebab darahku yang mengalir juga darahmu,
darah seorang perawat.
ketika kutancapkan belati di dadamu,
lalu dunia mana tempat kita berteduh,
sedang tuan telah berlalu dan tak bereingkarnasi kehidupan
di tanganku, tangan seorang perawat.
perawat di hamparan luas nurani,
kita telah memulai, dan kita telah melangkah,
bahkan terdengar nyaring ikrar yang kau bisikkan ditelinga,
jika di perjalanan panjang ini aku mati,
usah di kau mengirimkan karangan bunga duka,
kirimkan padaku api kemanusiaan
yang kualunkan di telinga lewat kesah yang pernah kusyairkan.
bahwa……perubahan telah menunggu dipundakmu.
Selatan Makassar, Awal Maret 2008
Awie
Rabu, 02 Juli 2008
BILLIAR….MASTER…PERAWAT
BILLIAR….MASTER…PERAWAT
(Awie Sang Murid)
Aku ini seorang murid,
Masterku adalah para master,
Setiap hari didoktrin tunduk,
Jika tidak maka nilai error.
Aku ini seorang murid,
Meski aku telah tamat,
Aku disuruh menghargai para master,
Harus tunduk meski profesiku diinjak,
Aku ini seorang murid,
Gerah aku mendengar retorika para master,
Sok jago, sok hebat, dan sok suci,
Nyatanya ambisi jabatan jangan lupa jadi provokator.
Aku ini seorang murid,
Masterku memang paling jago,
Doktrinnya juga tak diragukan,
Karena aku telah terdoktrin,
Maka master sekalipun menghalangi langkahku,
Kan kucabik-cabik,
Sebab perjuangn telah terbentang,
Sebab darah para murid telah mendidih,
Sebab para petaraung-petarung untuk sebuah perubahan telah berdenyut hanyat,
Berapa jumlah master billiard,
Ah tau ah, gelap.
Juga berapa jumlah master keperawatan.
Entah pula aku tak melihatnya.
17 Maret 2008
(Awie Sang Murid)
Aku ini seorang murid,
Masterku adalah para master,
Setiap hari didoktrin tunduk,
Jika tidak maka nilai error.
Aku ini seorang murid,
Meski aku telah tamat,
Aku disuruh menghargai para master,
Harus tunduk meski profesiku diinjak,
Aku ini seorang murid,
Gerah aku mendengar retorika para master,
Sok jago, sok hebat, dan sok suci,
Nyatanya ambisi jabatan jangan lupa jadi provokator.
Aku ini seorang murid,
Masterku memang paling jago,
Doktrinnya juga tak diragukan,
Karena aku telah terdoktrin,
Maka master sekalipun menghalangi langkahku,
Kan kucabik-cabik,
Sebab perjuangn telah terbentang,
Sebab darah para murid telah mendidih,
Sebab para petaraung-petarung untuk sebuah perubahan telah berdenyut hanyat,
Berapa jumlah master billiard,
Ah tau ah, gelap.
Juga berapa jumlah master keperawatan.
Entah pula aku tak melihatnya.
17 Maret 2008
HAMPIR SETENGAH ABAD
HAMPIR SETENGAH ABAD
(Ns Awie dan Barisan PPNI Kota Makassar)
Kukirim buat perawat senior yang mangabdi di desa terpencil
Kumulai menghitung sayap kata.....
Gemulai dilembar-lembar sajak,
Seragam putih-putih menembus sunyi,
Dihening malam, melintas disungai pengabadian,
Merintih para korban dimalam tak menunggu fajar.
Nurani terketuk pada sunyi yang temaram,
Nurani berkutik pada silau kebijakan tak bijak,
Hampir setengah abad dia berjalan,
Meniti cadas-cadas dilorong-lorong desa,
Keringat diurai diujung jalan menanjak,
Duduk dia bersimpuh, memandang jauh jalan setapak diketerusikan burung camar,
Jeritan korban menunggu di dusun sunyi pada rembulan sayup mengiris mendung.
Hampir setengah abad dia berjalan kaki,
Menapaki arus sungai bergemersik dibebatuan,
Lembah dan rimbunnya pepohonan,
Terik matahari yang menjerit,
Diguyuran hujan sore,
Halilintar menggertak pada dahan-dahan yang berguguran,
Jeritan korban menunggu didusun sunyi pada sore gemulai menuju malam.
Hampir setengah abad gajinya dikebiri,
Mengabdi pada kebijakan tak bijak,
Pada derasnya perburuan pangkat dan tahta,
Pertarungan para singa kelaparan,
Memangsa dan mencabik hak asasi anak bangsa.
Hampir setengah abad dia terusik,
Dilelapnya tidur malam,
Jerit keluarga korban mengetuk pintu nurani,
Bergegas bangun pada mata pengabdian,
Tak ada pilihan, maka perjalanan dimulai,
Menapaki semak belukar,
Dijalan tak bersahabat,
Hujan mengguyur diawal malam.
Kukerling mata diujung ranting dan dahan,
Kemarau telah merenggut dedaunan,
Kumerenung menakar kata,
Akarpun telah terkoyak oleh badai kebijakan tak bijak.
Kita yang berburu diperburuan airmata,
Kitapun bertaruh dipertaruhan nurani,
Seragam apa yang tuan pakai?
Apa arti nurani menurutmu tuan?
Sebait syair pernah kulukis,
Kita adalah anak-anak bangsa yang meringis,
Kita adalah sajak-sajak kemanusiaan yang tak tersentuh.
Kita adalah baris-baris seragam abu-abu.
Kita adalah seragam abadi dipengabdian,
Kita adalah mata bathin dikegundahan,
Kita adalah sejarah yang tak kesampaian,
Kita adalah penghuni dikerajaan tak bertuan,
Kita adalah potret penindasan,
Kita adalah potret tulang tak berbentuk,
Kita adalah Penggalan-penggalan kata tak berwujud sampai
Lalu kita ini siapa?
Lalu kita hendak kemana?
Berapa lama juga untuk siapa?
Tanyakan pada perawat yang bersimpuh diujung sunyi dusun.
Hampir setengah abad,
Serunai seruling didusun mengukir kegelisahannya,
Hampir setengah abad,
Suara binatang malam mengalun ditelinganya,
Hampir setengah abad,
Dia menatap gadis-gadis desa melintas disore terangkai,
Hampir setengah abad,
Dia menjerit namun tak ada yang mendengarnya.
Jalan Menuju Malino, Akhir Januari 2008
Puisi ini dilombakan pada acara Pentas Seni Keperawatan yang diselenggarakan oleh PPNI Kota Makassar bekerjasama dengan Mahasiswa Keperawatan se Indonesia Timur, Gedung Balai Jend. Muh Yusuf tanggal 16 - 17 Maret 2008
(Ns Awie dan Barisan PPNI Kota Makassar)
Kukirim buat perawat senior yang mangabdi di desa terpencil
Kumulai menghitung sayap kata.....
Gemulai dilembar-lembar sajak,
Seragam putih-putih menembus sunyi,
Dihening malam, melintas disungai pengabadian,
Merintih para korban dimalam tak menunggu fajar.
Nurani terketuk pada sunyi yang temaram,
Nurani berkutik pada silau kebijakan tak bijak,
Hampir setengah abad dia berjalan,
Meniti cadas-cadas dilorong-lorong desa,
Keringat diurai diujung jalan menanjak,
Duduk dia bersimpuh, memandang jauh jalan setapak diketerusikan burung camar,
Jeritan korban menunggu di dusun sunyi pada rembulan sayup mengiris mendung.
Hampir setengah abad dia berjalan kaki,
Menapaki arus sungai bergemersik dibebatuan,
Lembah dan rimbunnya pepohonan,
Terik matahari yang menjerit,
Diguyuran hujan sore,
Halilintar menggertak pada dahan-dahan yang berguguran,
Jeritan korban menunggu didusun sunyi pada sore gemulai menuju malam.
Hampir setengah abad gajinya dikebiri,
Mengabdi pada kebijakan tak bijak,
Pada derasnya perburuan pangkat dan tahta,
Pertarungan para singa kelaparan,
Memangsa dan mencabik hak asasi anak bangsa.
Hampir setengah abad dia terusik,
Dilelapnya tidur malam,
Jerit keluarga korban mengetuk pintu nurani,
Bergegas bangun pada mata pengabdian,
Tak ada pilihan, maka perjalanan dimulai,
Menapaki semak belukar,
Dijalan tak bersahabat,
Hujan mengguyur diawal malam.
Kukerling mata diujung ranting dan dahan,
Kemarau telah merenggut dedaunan,
Kumerenung menakar kata,
Akarpun telah terkoyak oleh badai kebijakan tak bijak.
Kita yang berburu diperburuan airmata,
Kitapun bertaruh dipertaruhan nurani,
Seragam apa yang tuan pakai?
Apa arti nurani menurutmu tuan?
Sebait syair pernah kulukis,
Kita adalah anak-anak bangsa yang meringis,
Kita adalah sajak-sajak kemanusiaan yang tak tersentuh.
Kita adalah baris-baris seragam abu-abu.
Kita adalah seragam abadi dipengabdian,
Kita adalah mata bathin dikegundahan,
Kita adalah sejarah yang tak kesampaian,
Kita adalah penghuni dikerajaan tak bertuan,
Kita adalah potret penindasan,
Kita adalah potret tulang tak berbentuk,
Kita adalah Penggalan-penggalan kata tak berwujud sampai
Lalu kita ini siapa?
Lalu kita hendak kemana?
Berapa lama juga untuk siapa?
Tanyakan pada perawat yang bersimpuh diujung sunyi dusun.
Hampir setengah abad,
Serunai seruling didusun mengukir kegelisahannya,
Hampir setengah abad,
Suara binatang malam mengalun ditelinganya,
Hampir setengah abad,
Dia menatap gadis-gadis desa melintas disore terangkai,
Hampir setengah abad,
Dia menjerit namun tak ada yang mendengarnya.
Jalan Menuju Malino, Akhir Januari 2008
Puisi ini dilombakan pada acara Pentas Seni Keperawatan yang diselenggarakan oleh PPNI Kota Makassar bekerjasama dengan Mahasiswa Keperawatan se Indonesia Timur, Gedung Balai Jend. Muh Yusuf tanggal 16 - 17 Maret 2008
AKU MENDENGARMU
AKU MENDENGARMU
Oleh : Abdul Haris Awie
Dibacakan oleh Walikota Makassar (Ir H. Ilham Srief Sirajuddin, MM)
Pada HUT PPNI Kota Makassar 17 Maret 2008
sayup kudengar nuranimu,
menyusup direlung-relung rasamu,
namun aku tak jauh dari tatapan matamu,
aku disini, dengan segala kekokohan rasa ingin menyelam pun dalam rasamu.
usah terpaku digelombang-gelombang samudera yang berkibar,
kita adalah petarung ditengah badai yang siap menggulung diam,
kita adalah akar yang mencakar bumi dengan kekuatannya,
lalu kenapa kita mesti berhenti,
kita bermimpi berlabuh disyahbandar cita,
aku adalah fisik dinuranimu wahai perawat……
aku adalah rembulan untuk malam yang sepi,
aku adalah angin berhembus diterik matahari menyengat,
usah berhenti di sini,
usah diam,
kabarkan padaku semangat yang berkobar dalam nuranimu,
beritakan padaku tetesan tetesan embun difajar menunggu,
katakanlah….
aku masih mendengarmu,
katakan pula aku disini menatapmu
ulurkan jemarimu, mari melangkah kedepan……
17 Maret 2008
Oleh : Abdul Haris Awie
Dibacakan oleh Walikota Makassar (Ir H. Ilham Srief Sirajuddin, MM)
Pada HUT PPNI Kota Makassar 17 Maret 2008
sayup kudengar nuranimu,
menyusup direlung-relung rasamu,
namun aku tak jauh dari tatapan matamu,
aku disini, dengan segala kekokohan rasa ingin menyelam pun dalam rasamu.
usah terpaku digelombang-gelombang samudera yang berkibar,
kita adalah petarung ditengah badai yang siap menggulung diam,
kita adalah akar yang mencakar bumi dengan kekuatannya,
lalu kenapa kita mesti berhenti,
kita bermimpi berlabuh disyahbandar cita,
aku adalah fisik dinuranimu wahai perawat……
aku adalah rembulan untuk malam yang sepi,
aku adalah angin berhembus diterik matahari menyengat,
usah berhenti di sini,
usah diam,
kabarkan padaku semangat yang berkobar dalam nuranimu,
beritakan padaku tetesan tetesan embun difajar menunggu,
katakanlah….
aku masih mendengarmu,
katakan pula aku disini menatapmu
ulurkan jemarimu, mari melangkah kedepan……
17 Maret 2008
Pelaut Tangguh
Pelaut Tangguh
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
ombak telah menggulung,
syahbandar bergetar,
segan menghampiri pelaut mencari nafkah,
menyabung nyawa untuk nafas-nafas kelaparan,
pantai telah terkoyak,
di lumatan ombak menghempas pasir dan karang,
tunggulah ombak reda,
atau selamat datang pelaut ulung,
melipat-lipat ombak menjadi selimut tidur,
melumat habis ketakutan yang merinding,
matahari mengintip di awan putih,
menyengat di keringat menahan layar yang terkoyak,
ombak terus menggulung,
di tengah samudera tak tampak pantai tempat menyambung nyawa,
matahari tetaplah matahari,
angin tak bersahabat menyeret perahu,
entah terdampar di mana,
hanya hati yang terus berjalan.
sang pelaut ulung tersenyum pada matahari,
sang pelaut tangguh sesekali berjabat tangan dengan ombak,
tak akan ada nada henti,
meski tak pasti, kapan ombak berhenti.
di persimpangan jalan aku terdiam,
pelaut tangguh itu adalah kamu, wahai perawat yang menunggu pantai di jemari para penguasa. entah…..
Di batas Kota Makassar, Awal Maret 2008
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
ombak telah menggulung,
syahbandar bergetar,
segan menghampiri pelaut mencari nafkah,
menyabung nyawa untuk nafas-nafas kelaparan,
pantai telah terkoyak,
di lumatan ombak menghempas pasir dan karang,
tunggulah ombak reda,
atau selamat datang pelaut ulung,
melipat-lipat ombak menjadi selimut tidur,
melumat habis ketakutan yang merinding,
matahari mengintip di awan putih,
menyengat di keringat menahan layar yang terkoyak,
ombak terus menggulung,
di tengah samudera tak tampak pantai tempat menyambung nyawa,
matahari tetaplah matahari,
angin tak bersahabat menyeret perahu,
entah terdampar di mana,
hanya hati yang terus berjalan.
sang pelaut ulung tersenyum pada matahari,
sang pelaut tangguh sesekali berjabat tangan dengan ombak,
tak akan ada nada henti,
meski tak pasti, kapan ombak berhenti.
di persimpangan jalan aku terdiam,
pelaut tangguh itu adalah kamu, wahai perawat yang menunggu pantai di jemari para penguasa. entah…..
Di batas Kota Makassar, Awal Maret 2008
PADAMU AKU RINDU
PADAMU AKU RINDU
Cipt. Abdul Haris Awie
Dibacakan Oleh H. Alimuddin (AGT DPRD SULSEL)
Pada HUT PPNI
Serangkai orang-orang telah bersandar,
Menjulur dalam antrian panjang kata,
Murusuk dalam titipan zaman,
Aku tidak tahu apa yang kamu bingkai.
Aku menatapmu lewat potret yang kamu kirim padaku.
Pada dinding-dinding yang kamu sandari,
Pada ranting-ranting tempatmu bertengger, aku tahu itu.
Aku juga tahu betapa kamu telah lama berjalan,
Menepi berteduh diperjalanan panjang,
Aku lihat itu.
Kini aku hadir ditatapan matamu,
Aku juga terlahir dimatamu,
Ijinkan aku rindu padamu,
Izinkan aku melihatmu sekaliii….saja,
Selanjutnya aku akan bersuara untukmu,
Meneruskan suara paraumu yang belum kesampaian,
Membuktikan tekad perjuangan yang dikau kibarkan,
Jua menuju permadani yang kamu damba…
Aku rindu padamu……
Aku Rindu Padamu para perawat yang duduk bersimpuh disuara nurani.
Manunggal 17 Maret 2008
Cipt. Abdul Haris Awie
Dibacakan Oleh H. Alimuddin (AGT DPRD SULSEL)
Pada HUT PPNI
Serangkai orang-orang telah bersandar,
Menjulur dalam antrian panjang kata,
Murusuk dalam titipan zaman,
Aku tidak tahu apa yang kamu bingkai.
Aku menatapmu lewat potret yang kamu kirim padaku.
Pada dinding-dinding yang kamu sandari,
Pada ranting-ranting tempatmu bertengger, aku tahu itu.
Aku juga tahu betapa kamu telah lama berjalan,
Menepi berteduh diperjalanan panjang,
Aku lihat itu.
Kini aku hadir ditatapan matamu,
Aku juga terlahir dimatamu,
Ijinkan aku rindu padamu,
Izinkan aku melihatmu sekaliii….saja,
Selanjutnya aku akan bersuara untukmu,
Meneruskan suara paraumu yang belum kesampaian,
Membuktikan tekad perjuangan yang dikau kibarkan,
Jua menuju permadani yang kamu damba…
Aku rindu padamu……
Aku Rindu Padamu para perawat yang duduk bersimpuh disuara nurani.
Manunggal 17 Maret 2008
JANGAN SULAP PROFESI INI
JANGAN SULAP PROFESI INI
Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Seragam apapun yang saudara-saudara pakai,
Warna jas alamamater apapun yang melekat dalam diri saudara,
Pada dasarnya kita adalah satu,
Pada hakekatnya pula kita satu nasib,
Entahlah kalau kita adalah korban-korban zaman,
Apapun nama kampus saudara,
Jika telah mendapat izin dari pemerintah,
Maka diatas kertas putih kita bersaudara,
Jika saudara menancapkan badik dalam dada saya,
Maka bukan darahku yang mengalir,
Tapi darah seorang perawat, sama seperti tuan yang juga perawat
Jika saya menancapkan badik Makassar dalam dada saudara,
Darah yang mengucur dari dada tuan bukan hanya darah tuan,
Tapi juga darahku,
Darah seorang perawat.
……………………………………………..
Para perawat masih menjerit,
Anggota DPR masih sibuk mengumpulkan dana Untuk kampanye 2009
Para perawat masih belum tersentuh diujung pena tak bijak
Para elite politik sibuk berdebat tentang kenaikan BBM dan peristiwa berdarah monas,
Entah kapan mereka bersuara untuk perawat,
Entahlah…. Dengarkan janji2nya dipentas 2009
Hampir diseluruh jengkal tanah pertiwi Indonesia,
Tak 1 orangpun legislator yang mempertaruhkan pangkat dan tahtanya demi perawat.
Belum lagi……
Para elite bisnis di republik ini sibuk membuka sekolah baru,
Bertarung dengan slogan-slogan “kampus buatanku yang terbaik”
Para elite senior keperawatan sibuk berburu aktualisasi diri,
Dibungkus dengan pengakuan,
Pada bayang-bayang semu status sosial yang kerdil diketerasingan,
Diujungnya adalah kayu rapuh disantapan rayap meratap.
Jangan sulap profesi ini
Apalagi kalau bukan atas nama materil,
Kata profesional adalah lagu lama yang didendang orde baru
Kata menghasilkan perawat profesional adalah dongeng-dongeng
Kata tempat kuliah refresentatif adalah bumbu-bumbu,
Belum lagi jika itu pembohongan publik.
Jangan sulap profesi ini
Gelombang perubahan tak menggetarkan nurani,
Segala suara peluh tetaplah deret tetesan airmata anak bangsa,
Segala pemasungan logika pelaku bisnis kampus2 keperawatan,
Adalah apologi dengan retorika berbau pertarungan, menjadi yang terdahsyat digaris yang tak dipertandingkan.
Jangan sulap profesi ini
Jika banyak kampus keperawatan,
Pelakuknya jua banyak orang keperawatan yang kehausan,
Jika banyak perawat yang menganggur,
Pelakunya juga orang keperawatan yang jadi pahlawan,
Jika banyak alumni keperawatan yang tak terserap pada masa nanti,
Yang merusak juga adalah orang-orang keperawatan.
Perawat makan perawat……
Jangan sulap profesi ini
Memperbaiki nasib perawat, tak harus buat sekolah
Memperbaiki mutu pekerja putih-putih
Jua tak mesti kita berneko neko,
Merubah perwajahan perawat ditanah air,
Mestinya pengambil kebijakan legalitas perizinan kampus keperawatan
Tegas digaris yang berpijak pada kebijakan,
Jangan sulap profesi ini
Benar bahwa semua warga negara punya hak yang sama mencerdaskan anak bangsa,
Tapi pekerja putih-putih adalah profesi,
Membuat kampus adalah sistematika,
Bukan seperti membuat toko,
SDM nya mesti handal,
Fasilitas adalah wajib,
Skill science tak dapat dihindari.
Jangan sulap profesi ini.
Hidup adalah pertarungan logika dibingkai napas,
Lawan, lawan dan lawan,
Jika logika terbelenggu,
Apa arti hidup jika logika telah mati.
Pada dasarnya kita satu nasib,
Kalaupun kita berbeda,
Itu karena ada yang berbisinis sekolah keperawatan dan ada yang biasa biasa saja
Kalimata, 8 Juni 2008
Puisi ini dibacakan pada Seminar Nasional Keperawatan yang dilaksanakan di LAN (penyelenggara Seminar DEMA PSIK FK UNHAS)
Tema : Menguak Legalitas Pendirian Kampus Keperaatan, Kupas Tuntas Profesiku
Komplain terhadap puisi ini adalah wajib jika anda tersinggung.
Email : Awie_ners@yahoo.com
Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Seragam apapun yang saudara-saudara pakai,
Warna jas alamamater apapun yang melekat dalam diri saudara,
Pada dasarnya kita adalah satu,
Pada hakekatnya pula kita satu nasib,
Entahlah kalau kita adalah korban-korban zaman,
Apapun nama kampus saudara,
Jika telah mendapat izin dari pemerintah,
Maka diatas kertas putih kita bersaudara,
Jika saudara menancapkan badik dalam dada saya,
Maka bukan darahku yang mengalir,
Tapi darah seorang perawat, sama seperti tuan yang juga perawat
Jika saya menancapkan badik Makassar dalam dada saudara,
Darah yang mengucur dari dada tuan bukan hanya darah tuan,
Tapi juga darahku,
Darah seorang perawat.
……………………………………………..
Para perawat masih menjerit,
Anggota DPR masih sibuk mengumpulkan dana Untuk kampanye 2009
Para perawat masih belum tersentuh diujung pena tak bijak
Para elite politik sibuk berdebat tentang kenaikan BBM dan peristiwa berdarah monas,
Entah kapan mereka bersuara untuk perawat,
Entahlah…. Dengarkan janji2nya dipentas 2009
Hampir diseluruh jengkal tanah pertiwi Indonesia,
Tak 1 orangpun legislator yang mempertaruhkan pangkat dan tahtanya demi perawat.
Belum lagi……
Para elite bisnis di republik ini sibuk membuka sekolah baru,
Bertarung dengan slogan-slogan “kampus buatanku yang terbaik”
Para elite senior keperawatan sibuk berburu aktualisasi diri,
Dibungkus dengan pengakuan,
Pada bayang-bayang semu status sosial yang kerdil diketerasingan,
Diujungnya adalah kayu rapuh disantapan rayap meratap.
Jangan sulap profesi ini
Apalagi kalau bukan atas nama materil,
Kata profesional adalah lagu lama yang didendang orde baru
Kata menghasilkan perawat profesional adalah dongeng-dongeng
Kata tempat kuliah refresentatif adalah bumbu-bumbu,
Belum lagi jika itu pembohongan publik.
Jangan sulap profesi ini
Gelombang perubahan tak menggetarkan nurani,
Segala suara peluh tetaplah deret tetesan airmata anak bangsa,
Segala pemasungan logika pelaku bisnis kampus2 keperawatan,
Adalah apologi dengan retorika berbau pertarungan, menjadi yang terdahsyat digaris yang tak dipertandingkan.
Jangan sulap profesi ini
Jika banyak kampus keperawatan,
Pelakuknya jua banyak orang keperawatan yang kehausan,
Jika banyak perawat yang menganggur,
Pelakunya juga orang keperawatan yang jadi pahlawan,
Jika banyak alumni keperawatan yang tak terserap pada masa nanti,
Yang merusak juga adalah orang-orang keperawatan.
Perawat makan perawat……
Jangan sulap profesi ini
Memperbaiki nasib perawat, tak harus buat sekolah
Memperbaiki mutu pekerja putih-putih
Jua tak mesti kita berneko neko,
Merubah perwajahan perawat ditanah air,
Mestinya pengambil kebijakan legalitas perizinan kampus keperawatan
Tegas digaris yang berpijak pada kebijakan,
Jangan sulap profesi ini
Benar bahwa semua warga negara punya hak yang sama mencerdaskan anak bangsa,
Tapi pekerja putih-putih adalah profesi,
Membuat kampus adalah sistematika,
Bukan seperti membuat toko,
SDM nya mesti handal,
Fasilitas adalah wajib,
Skill science tak dapat dihindari.
Jangan sulap profesi ini.
Hidup adalah pertarungan logika dibingkai napas,
Lawan, lawan dan lawan,
Jika logika terbelenggu,
Apa arti hidup jika logika telah mati.
Pada dasarnya kita satu nasib,
Kalaupun kita berbeda,
Itu karena ada yang berbisinis sekolah keperawatan dan ada yang biasa biasa saja
Kalimata, 8 Juni 2008
Puisi ini dibacakan pada Seminar Nasional Keperawatan yang dilaksanakan di LAN (penyelenggara Seminar DEMA PSIK FK UNHAS)
Tema : Menguak Legalitas Pendirian Kampus Keperaatan, Kupas Tuntas Profesiku
Komplain terhadap puisi ini adalah wajib jika anda tersinggung.
Email : Awie_ners@yahoo.com
PESISIR KOTA KAMI, NEGARA TUAN
PESISIR KOTA KAMI, NEGARA TUAN
Karya: Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Berjalan pada pesisir pantai nan sejuk,
Meski tak sesejuk nirwana harapan,
Mengintai lumba-lumba bermain,
Walau tak secantik buruknya hidup rakyat pesisir dikegelapan.
Kami bersandar pada gelora tanjung hayalan,
Mencari bentuk tersempurna potret kehidupan,
Mendengar desahan alam “Merekam sejuta makna air mata”
Mengukir sehelai realitas diatas tinta-tinta penderitaan.
Namun kami berhenti dan terpana
Dibentangan jalan kota yang panjang.
Siapa disana yang menengadahkan tangan,
Mereka siapa yang menangis,
Bangsa siapa yang meratapi bangsanya,
Mari bertanya pada isak tangis mengharu.
Malam mulai merambat, sasaran kami Jalan Nusantara,
Disana ada suara lembut “Mau pesan kamar mas !”
v “Saya bukan mas tapi daeng”
Ditemani sentuhan menggoda “Bayarannya murah kok mas”
v “skali lagi saya bukan mas tapi daeng darah Bugis Makassar”
Potret body langsing “Jiwa kurus dan biadab” ada disana
Pertengahan malam kami beranjak, meninggalkan tawa miring
Pandangan kabur, lemah, lesu dan menyesal
Tertulis berita “Kami telah menjadi korban”
Sebuah kebiadaban zaman yang menyeret pembenaran nurani.
Siapa yang menggusur, Siapa!
Siapa yang memperkosa, Siapa!.
Siapa yang melaknat, Siapa!
Dan siapa yang mampu mendengar jeritan siapa.
Kalau kami menyuarakan “Rakyat tergilas”
Kalau kami membahasakan “Orang-orang pinggiran”
Jika kami terharu “Tentang penderitaan mereka” kenapa tuan gentar.
Bukankah gaji tuan adalah pajak dari keringat mereka.
Apa arti keadilan menurutmu tuan?
Apakah disebut keadilan dengan menggusur mereka yang bertahan hidup Lalu tuan menyulap tanah mereka! dengan menanam gedung-gedung pencakar langit!.
Apa arti pemberdayaan wanita menurut tuan-tuan,
Apakah disebut pemberdayaan dengan menjual mereka seharga Rp 65 ribu/jam!
Ha.. tuan bergurau!
Tuan menutup mata
Pada masyarakat marginal yang tuan-tuan korbankan.
Tuan-tuan menutup telinga,
Pada perempuan yang menjerit karena selangkangannya digerayangi...
Tuan terlena dalam sebotol Bir
v Tapi tuan kalau botolan sudah habis, masih ada Ballo Ase
Tuan tertawa “Ini adalah hasil perjuangan”
Yah…. Perjuangan untuk membodohi rakyat,
Pengorbanan demi sebuah jabatan.
Tuan-tuan memberi kami kebebasan berdemokrasi,
Tapi tuan hilaf menyandera kami,
Tuan-tuan memberi kami kesempatan menyuarakan hati,
Tapi tuan terkadang larut dan berlalu
Tuan….. jangan pasung semangat kami,
Usah membeli kebebasan kami,
Beri kami amplop kosong tuan,
Akan kami isi dengan ide untuk negaraku, bangsa tuan
dan bahasa mereka
Berbicara konsep, Tuanlah rajanya!
Membahas arah pembangunan, Tuan tiada duanya!
Berusaha untuk makan, Tuanlah jempolnya,
Tapi sayang, Tuan nomor satu karena rakus.
Makassar, 2004
Puisi ini di bacakan pada Lounching Buku Ingin kukencingi Mulut Monalisa yang tersenyum Karya Andhika Mappasomba dan Anis di Unismuh
Serta Penyambutan Adi Sasono Ditakalar Tahun 2004
Karya: Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Berjalan pada pesisir pantai nan sejuk,
Meski tak sesejuk nirwana harapan,
Mengintai lumba-lumba bermain,
Walau tak secantik buruknya hidup rakyat pesisir dikegelapan.
Kami bersandar pada gelora tanjung hayalan,
Mencari bentuk tersempurna potret kehidupan,
Mendengar desahan alam “Merekam sejuta makna air mata”
Mengukir sehelai realitas diatas tinta-tinta penderitaan.
Namun kami berhenti dan terpana
Dibentangan jalan kota yang panjang.
Siapa disana yang menengadahkan tangan,
Mereka siapa yang menangis,
Bangsa siapa yang meratapi bangsanya,
Mari bertanya pada isak tangis mengharu.
Malam mulai merambat, sasaran kami Jalan Nusantara,
Disana ada suara lembut “Mau pesan kamar mas !”
v “Saya bukan mas tapi daeng”
Ditemani sentuhan menggoda “Bayarannya murah kok mas”
v “skali lagi saya bukan mas tapi daeng darah Bugis Makassar”
Potret body langsing “Jiwa kurus dan biadab” ada disana
Pertengahan malam kami beranjak, meninggalkan tawa miring
Pandangan kabur, lemah, lesu dan menyesal
Tertulis berita “Kami telah menjadi korban”
Sebuah kebiadaban zaman yang menyeret pembenaran nurani.
Siapa yang menggusur, Siapa!
Siapa yang memperkosa, Siapa!.
Siapa yang melaknat, Siapa!
Dan siapa yang mampu mendengar jeritan siapa.
Kalau kami menyuarakan “Rakyat tergilas”
Kalau kami membahasakan “Orang-orang pinggiran”
Jika kami terharu “Tentang penderitaan mereka” kenapa tuan gentar.
Bukankah gaji tuan adalah pajak dari keringat mereka.
Apa arti keadilan menurutmu tuan?
Apakah disebut keadilan dengan menggusur mereka yang bertahan hidup Lalu tuan menyulap tanah mereka! dengan menanam gedung-gedung pencakar langit!.
Apa arti pemberdayaan wanita menurut tuan-tuan,
Apakah disebut pemberdayaan dengan menjual mereka seharga Rp 65 ribu/jam!
Ha.. tuan bergurau!
Tuan menutup mata
Pada masyarakat marginal yang tuan-tuan korbankan.
Tuan-tuan menutup telinga,
Pada perempuan yang menjerit karena selangkangannya digerayangi...
Tuan terlena dalam sebotol Bir
v Tapi tuan kalau botolan sudah habis, masih ada Ballo Ase
Tuan tertawa “Ini adalah hasil perjuangan”
Yah…. Perjuangan untuk membodohi rakyat,
Pengorbanan demi sebuah jabatan.
Tuan-tuan memberi kami kebebasan berdemokrasi,
Tapi tuan hilaf menyandera kami,
Tuan-tuan memberi kami kesempatan menyuarakan hati,
Tapi tuan terkadang larut dan berlalu
Tuan….. jangan pasung semangat kami,
Usah membeli kebebasan kami,
Beri kami amplop kosong tuan,
Akan kami isi dengan ide untuk negaraku, bangsa tuan
dan bahasa mereka
Berbicara konsep, Tuanlah rajanya!
Membahas arah pembangunan, Tuan tiada duanya!
Berusaha untuk makan, Tuanlah jempolnya,
Tapi sayang, Tuan nomor satu karena rakus.
Makassar, 2004
Puisi ini di bacakan pada Lounching Buku Ingin kukencingi Mulut Monalisa yang tersenyum Karya Andhika Mappasomba dan Anis di Unismuh
Serta Penyambutan Adi Sasono Ditakalar Tahun 2004
PUTIH 100 PELURU
PUTIH 100 PELURU
Oleh :Angel
Puisi ini juara I pada lomba puisi antara perewat se KTI
di Manunggal tanggal 16 - 17 Maret 2008
Hai kau yang merawat orang-orang sekarat!!!!!
aku dengar igaumu, aku dengar igaumu
aku dengar igaumu menyerang pagi ini, pagi buta pagi putih
mengerang-ngerang, meraung-raung
duka tak dapat bercakap,
runtuh di pematang pengabdian.
kain kafan peluh darah di tangan menjadi sahabatmu,
tak peduli darah di tanganmu
nanah peluh kau remas,
di kampung senyap yang tak terdapat dalam dipeta
simak disana,
100 ketukan pintu disubuh putih,
mengerang, meraung tanpa batas harap,
ada lagi yang terluka,
ada lagi yang rerkapar,
ada lagi yang meradang,
100 kepingan peluru terlontar di dadanya,
menusuk ke dadaku.
dengar kabar buruk dari mimpi,
bumi merintih kesakitan,
oleh kebijakan tak bernurani yang merampas hak asasi,
lihat ada yang terluka 100 peluru
lihat ku pun terluka kali 100 peluru,
dikebiri nista, redup mata air mata…
runtuh
merayu kematian
aku
perawat
sepakat tanpa mufakat
hidup di atas ujung peluru pengebirian nasib
pada ungkap bijak tak berpihak!
Aku
Perawat
Tubuh pedih terpasung seratus peluru!
Oleh :Angel
Puisi ini juara I pada lomba puisi antara perewat se KTI
di Manunggal tanggal 16 - 17 Maret 2008
Hai kau yang merawat orang-orang sekarat!!!!!
aku dengar igaumu, aku dengar igaumu
aku dengar igaumu menyerang pagi ini, pagi buta pagi putih
mengerang-ngerang, meraung-raung
duka tak dapat bercakap,
runtuh di pematang pengabdian.
kain kafan peluh darah di tangan menjadi sahabatmu,
tak peduli darah di tanganmu
nanah peluh kau remas,
di kampung senyap yang tak terdapat dalam dipeta
simak disana,
100 ketukan pintu disubuh putih,
mengerang, meraung tanpa batas harap,
ada lagi yang terluka,
ada lagi yang rerkapar,
ada lagi yang meradang,
100 kepingan peluru terlontar di dadanya,
menusuk ke dadaku.
dengar kabar buruk dari mimpi,
bumi merintih kesakitan,
oleh kebijakan tak bernurani yang merampas hak asasi,
lihat ada yang terluka 100 peluru
lihat ku pun terluka kali 100 peluru,
dikebiri nista, redup mata air mata…
runtuh
merayu kematian
aku
perawat
sepakat tanpa mufakat
hidup di atas ujung peluru pengebirian nasib
pada ungkap bijak tak berpihak!
Aku
Perawat
Tubuh pedih terpasung seratus peluru!
Chairil Anwar Puisi
http://chairil-anwar.blogspot.com/
Monday, October 27, 2003
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Monday, October 27, 2003
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948) Siasat, Th III, No. 96 1949
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru, No. 11-12 20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai Maju Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943) Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948) Liberty, Jilid 7, No 297, 1954
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu...... Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948) Siasat, Th III, No. 96 1949
MALAM
Mulai kelam belum buntu malam kami masih berjaga --Thermopylae?- - jagal tidak dikenal ? - tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tenggelam hilang Zaman Baru, No. 11-12 20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai,
belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu K
aulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu,
kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang,kenanglah kami Teruskan,
teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti Tak gentar.
Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti Sudah itu mati.
MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju Serbu Serang Terjang
(Februari 1943) Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954
Monday, October 27, 2003
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Monday, October 27, 2003
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948) Siasat, Th III, No. 96 1949
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru, No. 11-12 20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai Maju Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943) Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948) Liberty, Jilid 7, No 297, 1954
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu...... Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948) Siasat, Th III, No. 96 1949
MALAM
Mulai kelam belum buntu malam kami masih berjaga --Thermopylae?- - jagal tidak dikenal ? - tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tenggelam hilang Zaman Baru, No. 11-12 20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai,
belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu K
aulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu,
kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang,kenanglah kami Teruskan,
teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948) Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti Tak gentar.
Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti Sudah itu mati.
MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju Serbu Serang Terjang
(Februari 1943) Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954
Langganan:
Postingan (Atom)
ANDA BISA BERGABUNG DISINI
Anda punyi karya sastra (puisi)? jika anda ingin jadi penulis, kirim email anda ke alamat email admint awie_ners@yahoo.com Anda Bebas "Menulis"