Puisi sebelum semuanya terlambat
MENGAKU UNTUK RAKYAT
Aku melihat banyak poster terpampang dijalan-dijalan
Ucapan selamat perayaan perayaan juga tidak sedikit,
Banyak mengumbar senyum, juga banyak berjanji
Para kandidat anggota legislatif disetiap tingkat beradu,
Dihadapan penontonnya, berburu menjadi yang terbaik,
Mengaku dia yang terbaik.
Aku melihat banyak kartu nama dan kalender kalender beredar,
Sticker sticker tertempel hampir setiap jengkal langkah,
Mengaku untuk rakyat, mengaku mau berjuang untuk rakyat,
Puisi ini adalah puisi atas nama nurani,
Bahwa jabatan legislatif bukanlah tujuan,
Bahwa jabatan legislatif bukanlah jabatan memperbaiki nasib,
Bahwa jabatan legislatif bukanlah permainan anak2 yang aturan mainna bisa dirubah kapan saja,
Bahwa jabatan legislatif bukanlah alat mengorbankan rakyat lewat retorika retorika politik,
Bahwa jabatan legislatif adalah amanah masyarakat kecil yang makan sayur kacang, ikan kering dan kanre bu’bu’
Bahwa jabatan legislatif adalah amanah rakyat tertindas yang bangun disubuh hari untuk mencari sesuap nasi demi anak-anaknya yang kelaparan.
Usah bermain main dengan permainan ini,
Usah berandai andai, dengan kata andai aku terpilih,
Karena tuan terpilih atau tidak, dimataku anda sama saja
Dan aku tak berhenti mengkritik kerakusan tuan yang tersisa,
Jangan mengaku untuk rakyat jika tuan tak tahu apa kebutuhan rakyat
Makassat, awal Januari 2009