Awie

Minggu, 28 Desember 2008

puisi alam

http://puteribayu.proboards18.com/index.cgi?board=karya&action=print&thread=33
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:08am

Bila angin
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya

Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya

Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya

Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya

Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya

Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya

Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata

Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".


Re: puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:15am

Rinduku terpahat dalam batu
suaraku mengalir bersama air
bertebaran menjadi bunga-bunga keabadian.

Aku patrikan diriku pada alam
cinta,tembang,lara,berlagu di pucuk cemara
angin semilir padamkan gelora.

Aku tak,kaupun tak,kita tak paham
bagaimana laut dengan cintanya
mematrikan diri pada tebing terjal.

Aku ingin belah sepi
tatkala bulan bersemi
tapi kemana kan kupautkan rindu
ketika air tak lagi bergemericik jernih.

Kepada alam jiwaku bermalam
________________________________________


tembang cinta burung yang luka
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:24am

hendak kemana burung yang luka
istirahatlah dulu saja
dalam sangkar sementara
hingga kering luka yang kau derita

hendak kemana burung yang luka
tinggal disini saja kita bisa bersama
bermain tralala
di luar tak ada lagi yang bisa kau mangsa
sawah telah di tanami gedung-gedung raksasa
hutan rimba sudah langka
di angkasa pun hanya ada mega
dan bianglala
tak usah mengembara
nanti kembali terluka!
________________________________________

pohon dan laut
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:29am

dipepohonan
burung-burung belajar berbicara
dengan lidah kecilnya,
tapi aku tak mengerti,
dilaut
ikan-ikan belajar terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
tapi aku tak mengerti.
karena aku hanyalah hutan kecil yang
tak tahu kenapa ditanam dialam untuk
dimusnahkan.
di pepohonan aku tahu,
burung-burung mencuba berbicara
dengan lidah kecilnya,
yang menyimpan beribu rahsia.
tapi akankah aku mengerti
apa yang d**eluhkannya?
di laut aku tahu
ikan-ikan terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
kian kemari tak tentu arah.
tapi akankah aku mengerti
apa yang di resahkannya?
kerana aku sendiri hanyalah
seekor katak kecil
yang tak lagi bisa berlindung
diantara akar-akar yang dulu perkasa
sekarang hilang tak berbekas.
________________________________________
Re: puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 23, 2005, 9:48am

Katanya kalian adalah tanganNya untuk kami
Nyatanya kalian hanya panjang tangan
Malang melintang di hutan kami
Menebar benci dan dengki

Katanya ajaran yang di amanatkan kepada kalian adalah cinta kasih
Nyatanya sekedar cinta pada diri yang tak terkendali
Katanya kalian pencinta alam
Nyatanya sekedar suka bercinta dengan alam

Dari kami kalian berasal
Tapi kami asing dengan kalian
Kalian toreh kulit kayu dan batu kami
"hanya tuk sekedar nama-nama kecil

Jinjinglah terompahmu
Injaklah kaki di batu-batu kecil kami yang memberi refleksi
Berwudhu'lah di air kami
Basuh mukamu sepuas syukurmu

Syukur jauh dari sekedar memuji-Nya
Syukur jauh dari sekedar menikmati
Makanlah dengan tangan telanjang di tepi kolam kami
Bersama teratai,capung,burung,katak dan burung-burung kami
Bersatulah dengan kami

Binalah tempat berpijakmu ini
Niscaya akan kami mintakan kepadaNya
Pemilik jagad ini
"tuk meneguhkan kedudukanmu dimuka bumi

Sampai suatu saat,
Kami kehilangan dari pandanganmu
Karena kami hanya segelintir ayat-Nya
Di jagad-Nya yang luas ini

aku adalah seekor burung
mungkin engkau talah lama mengenalku
kerna aku sering menggodamu pagi hari
tak peduli apakah engkau sedang bercumbu dengan mimpi

aku adalah seekor burung
mungkin engkau tahu tentang aku
yang tak pernah lelah berceloteh
yang tak pernah bosan berkencan dengan dahan-dahan dan dedaunan

aku adalah seekor burung
dulu,memang aku selalu begitu
terbang mengarak darah dan harapan
kepak sayap sarat angan-angan masa depan
sementara paruhku
tak pernah kubiarkan menyimpan keluh-kesah

tapi,O siapakah gerangan
yang diam-diam mengubur arti dulu
membungkam mulutku dan menyekat suaraku
hingga aku tak mampi lagi bersenandung
padahal dalam benakku
masih kusimpan rindu melagukan nyanyian

setelah aku kehilangan pepohonan
tempat bercanda bersama teman-teman
haruskah sekarang aku kehilangan kehidupan
ah,laras senjatamu itu
belum jera juga menguliti kebebasanku

entahlah telah berapa banyak
nyawa sesamaku yang terampas
di terjang tangan-tangan gagah
ditelan langkah-langkah pongah

sebenarnya,aku masih ingin akrab dengan matahari
mengadukan segala rupa persoalan
tapi,begitulah akhirnya
hari-hariku di sini kian tak utuh

biarlah,kukabarkan pada dunia
bahwa sekarang di sini
aku adalah seekor burung
yang menanti jatuh

mesranya sapaan angin
menjamah tubuhku yang gersang
terbangkan semua kegersangan

cakrawala tampil cemerlang
berselendang pelangi
bumbui kemegahan alam

gemuruh ombak berkejaran di pantai
perjuangan yang tiada putus
sempat bangkitkan semangatku
nyalakan nyaliku
dari tidur panjangku

hamparan hijau tergelar
berpagar sungai peluntur kelelahan
berdinding gunung perkasa
tegar menyongsong zaman

kulahap kenikmatan yang hadir
dengan segenap inderaku
keindahan alam begitu sempurna
sulit tergambarkan lewat taburan kata
istana raya penuh kedamaian
kandung selaksa kasiat
ubat penolak duka
pendobrak kepengapan

gema alunan burung bervokal
serukan tembang kedamaian
keantero jagat gemerlapan
peredam gejolak emosi
peluruh keangkuhan

sekeluarga kelinci berpesta
diatas permadani hijau
berselimut kebahgiaan

panoramanya alam kian gemilang
matapun enggan berlalu
serasa berenang di telaga kedamaian
________________________________________
ilusi dalam mimpi
Post by sanggabuana on Jul 28, 2005, 9:23am

bilamana aku dapat bermimpi berjumpa dengan ibu
akan kubawakan sebidang tanah penuh bunga
kuajak ia berjalan dalam hamparan flamboyan
lalu dari atas dahan kuperintahkan seribu burung
beryanyi tentang embun dan sinar mentari

bilamana ibu bersedih,akan kuhibur ia sambil
melihat lucunya kumbang cumbui kembang ditaman
lalu kubiarkan seribu kupu-kupu berterbangan
diatas rambutnya yang bermahkota pelangi

bilamana ibu letih,kan kukumpulkan butiran embun
dari pucuk-pucuk daun.dan kutaburkan pada tiap langkahnya
agar ibu merasa sejuk.lalu kubawa ibu menanam
masa depanku dalam warna bunga
agar ibu bangga anaknya lahir dinegeri daun
yang hijau penuh kicau

bilamana nanti ibu tertidur
kan kupagari ia dengan kemilau doa
dan kuajak burung-burung menjaganya
dari gemuruh dunia luar

bilamana ibu bertanya mengapa aku mengirim keindahan
hanya dalam mimpi,akan kukatakan pada ibu
bahwa hanya lewat mimpi anaknya bisa memberikan
kebahagiaan.kerna dinegeri yang kini hilang wangi,
telah tumbuh pohon-pohon berakar besi,kembang plastik,binatang yang di mumikanserta gemuruh pabrik yang
memproduksi polusi.biar ibu tahu
negeri yang subur telah hilang dalam peta.

PUISI PUTUS CINTA

PUISI PUTUS CINTA

Sayap sayap sang pengantar pesan menutupi kesadaranku
Pelukannya seperti cengkeraman malam pada bumi,
Erat dan pasti.
Wajahnya yang berduka meneguhkan hatiku
Tapi tubuh dan jiwa ini tak mampu bertahan,
hanya mampu ditentramkan dalam keheningan

Saat kegelapan sepenuhnya melindungiku,
Aku tak lagi sadarkan diri.
Cahaya mata malam dilangit membenturkan aku pada kenyataan.
Saat Terbangun dan tersadar, Aku sendirian lagi.

Saat Satu persatu kunang kunang memadamkan kedipannya
Aku mulai melangkah, Sunyi tanpamu,
namun aku tahu harus terus melangkah....
Pergi sejauh jauhnya dari mu
dari kenangan akan cinta..

aku dikhianati dan tak ingin membalasnya padamu..
di langit, gemintang bersinar menantang gerimis yang turun

dikutip http://pusaran-air.blogspot.com/2005/11/puisi-putus-cinta.html

Rabu, 12 November 2008

This is My Say

"Tulisan mahasiswa yang tidak mau sebut nama"


Saya terkadang bingung,
Kenapa sikap orang-orang bebeda di dunia maya dan di dunia nyata,
Saya seperti hidup didunia virtual,
Yang selalu mendongeng tentang hal-hal fiksi,
Saat kembali kedunia nyata,
Saya pun kembali tersesat.


Ditulis di Bantaeng, 4 oktober 2008
Untuk yang bersembunyi dari dirinya.

KEHIDUPAN


"Puisi ini disumbangkan oleh mahasiswa yang tidak mau disebut namanya"


Menangis karena cinta lebih utama,
daripada kebahagiaan yang tidak memiliki cinta,
Jika hidup terasa berat bagimu,
biarlah jiwa yang merana, menganggap ratapan sebagai kebahagiaan,
dan biarlah yang tertindas, merasakan keindahan dalam doa’,
Mari bernyanyi dan bermimpi dalam suka cita,
Biar masing-masing merenungi takdir.
Karena hidup seperti irama senar,
Punya jalan masing-masing,
Meski berada dalam sebuah nyanyian kehidupan yang sama.



Ditulis di Makassar, 26 Oktober 2008
Untuk orang yang tidak mensyukuri hidup.

Senin, 03 November 2008

BAHWA TANAH MAKASSAR

BAHWA TANAH MAKASSAR

(Oleh Ns. Abdul Haris, S.Kep)

Buat Ilham Arief Sirajuddin dan Soepomo Guntur, Dibacakan saat mendaftar di KPU Untuk 01/02 Makassar

Apapun suku tuan, apapun agamu tuan, apapun bahasa yang tuan pakai

Kita adalah satu rasa,

Hari ini kita yang berkumpul disini, adalah kumpulan para petarung tangguh dan petarung sejati, Petarung yang takkan pernah berhenti ditengah jalannya pertarungan, petarung yang memenangkan keteguhan dan prinsip.

Tuan-tuan para petarung tangguh,

Ketika tuan mencabut badik dan menacapkan kedalam dada saya,

Maka darah yang keluar dari tubuh saya adalah darah orang Bugis Makassar,

Ketika aku mencabut badik Makassar dan menancapkan kedalam dada tuan,

Maka darah yang mengalir bukan hanya darah tuan, tetapi darah orang bugis Makassar, Sama sepertiku yang juga orang Bugis Makassar.

Siapapun tuan yang datang hari ini?

Hari ini, tuan-tuan telah menjadi petarung tangguh,

Hari ini tuan-tuan adalah perwakilan dan pemaknaan akan keterwakilan kata….. rakyat Makassar,

Tahukah tuan, dimana kaki tuan berpijak,

Tataplah tuan, bahwa telapak kaki tuan bertumpuh pada satu tanah,

Tanah Makassar….

Tanah Makassar adalah tanah tumpuan masyarakat yang bukan saja dicintai Masyarakat disepanjang Sulawesi, Namun Makassar adalah tanah kebanggan seluruh Rakyat di seluas hamparan laut dan daratan beserta rakyat di Kawasan Timur Indonesia.

Bahwa tanah Makassar adalah tanah idola,

Maka Pemimpinnya juga harus idola,

Bahwa Tanah Makassar adalah tanah panutan di KTI,

Maka pemimpin ditanah Makassar adalah mereka yang telah lama menyelam kedalam relung rasa dan jerit Rakyat kota

Maka pemimpin yang memimpin tanah Makassar adalah berkearifan dikesejatian prinsip “Siri’ na Pacce”

Maka Pemimpin di Tanah Makassar haruslah yang teruji dan berpengalaman.

Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat dengan kearifan,

Maka Pemimpin rakyat Makassar adalah yang teruji kearifannya,

Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat mayoritas kesederhanaan,

Maka pemimpin rakyat Makassar adalah teruji kesederhanaannya.

Bahwa penduduk Makassar adalah berjuta kepentingan,

Maka pemimpin penduduk Makassar adalah yang bijak pada perpedaan kepentingan,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Kuserahkan Makassar pada otak dan hatimu,

Kuserahkan Makassar pada setiap detak jantungmu,

Kuserahkan Makassar pada nurani dak ketulusanmu,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Aku mengenalmu dikeindahan anjungan pantai losari hasil logikamu,

Aku mengenalmu dilingkar kota ditengah rakyat kota mengais hidup,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Peluh dikau berjalan tertatih-tatih,

Memikul beban dan keluh anak negeri,

Masih pula ada yang menghujatmu,

Selamat Datang ilham Arief Sirajuddin,

Pada keringatmu yang bercucuran,

Pada airmatamu yang membasahi sejadah panjang,

Diperenungan tengah malammu bersimpuh,

Masih pula ada yang menghujatmu.

Aku tau kau hadir disetiap sisiran dan detak jantung kota,

Bersua dihelai kebijakan menuju permadani,

Karakter dan prinsip dalam santun,

Mengalir deras dalam darahmu,

Mengetuk dalam detak jantungmu.

NAKKE ACO’, KATTE?

Makassar, 11 Juli 2008

http://lensakomunika.blogspot.com

kemerdekaan itu bernama sanubari

kemerdekaan itu bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"



bila kemerdekaan itu berwarna merah
putihnya terpahat peluh dan darah
mengintip tiap lorong sejarah
mengalir bagai gemericik air
hingga ke lubuk terpencil
ia bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan itu terus merekah
rebahkan tanah - tanah merah
bertumbuhanlah
pepohonan kaku bernama
bangunan kokoh berkaca
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan berganti wajah
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu
karena sanubari
tak lagi ikut memekik

pekikkanlah "MERDEKA !"
yang berwarna merah
tapi pekiknya
tak mandi peluh dan darah

--------------------------------------------------------------------------------








jangan lantang bicara disini
mengungkap niat cukup di hati
kalau tidak, lidahmu terkerat nanti
gaji tersunat, anak binimu
dalam kepusingan sangat
ssst....., ssst.....!
jangan keras - keras !

ssst.....!
jangan bersuara
dengarkan katak - katak itu bicara
jangkrik menderik gelitik telinga
apa kata mereka, coba simak
rekam di benak, lantas redam
ssst.....
jangan keras - keras !

desir angin kalahkan malam
jenuh nantikan hujan tak kunjung datang

ELEGI

Oleh :
Asrul Sani


Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderi sebutir demi sebutir

Apa juga masih akan tiba,
Mesra yang kita bawa, tiadalah
kita biarkan hilang karena hisapan pasir

Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan

Jika suaramu hilang dan engkau mati.
Maka kami akan berduka, dan kanan
menghormat bersama kekasih kami.

Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian - tiada mungkin,
Dan sinar mata yang tiada terlupakan.

Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja,
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
mengeringkan kembang kerenyam*
Pepohonan sekali lai akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.
Laut India akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian

Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru.
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.

Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta.....



*Germanium

Mimbar Indonesia
Th III, No. 21
21 Mei 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Aku niscaya,

Aku niscaya,
pijar demokrasi suatu saat akan memancar di penjuru negeri.

aku bersaksi,
suatu saat pedang kebenaran
akan menaklukkan kekuasaan sang penindas.

untuk kesaksianku ini,
biarlah aku menahan lapar dan kehausan,
biarlah sukmaku diliputi amarah,
biarlah senjata resim kezaliman menikam dadaku,
biarlah juga penjara menjadi rumahku,
aku tak peduli.

aku amat niscaya,
di belakangku anak cucu generasi negeri ini,
akan terus melanjutkan pergerakan.

maklumat pergerakan,
untuk tegaknya kebenaran dan keadilan,
adalah aliran darah,
yang tak akan berhenti.

SAMARINDA, JANUARI 1995
(adaptasi ilham dari demo mahasiswa di tiananmen tahun 1986)





--------------------------------------------------------------------------------
Pada negeri ini kami lahir,
sebagai bangsa yang merdeka,
sosok raga yang berdaulat,
dayak kami menyebutnya,
borneo benua leluhur
saksi sejarah belantara perkasa

realita sejarah terus berputar,
kehidupan manusia niscaya bergulir,
sejak ape bungan tana sosok perempuan pertama,
hingga megawati soekarnoputri
serta sosok lain yang belum terlahir,
membuahkan ketidakpastian.
adalah suatu keniscayaan,
sesuatu di dunia ini pasti berubah,
yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

pembangunan telah melahirkan penghancuran.
modernisasi telah melahirkan marginalisasi.
ilmu pengetahuan tak lagi memiliki nurani.
teknologi tak lagi memiliki budi pekerti.

rakyat tak serta merta menentukan gelombang perubahan.
kekuatan yang menindas telah memainkan peran.
betapa dasyat maknanya,
manusia telah kehilangan kemanusiaannya.
hanya ada dua pilihan :
lawan atau kawan.

kesaksian abad klimaks,
mencari kepastian,
di negeri merdeka, benarkah ada kemerdekaan ?
di negeri merdeka, benarkah ada keadilan ?

PONTIANAK, 15 MEI 1995



--------------------------------------------------------------------------------

ROEDY HARJO WIDJONO AMZ
"LELAKI PENUNGGANG GELOMBANG"
( PUSTAKA SASTRA - JULI 1997

LAGU DARI PADA PASUKAN-TERAKHIR

LAGU DARI PADA PASUKAN-TERAKHIR

Oleh :
Asrul Sani

Pada tapal terakhir sampai ke Jogja
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
kata-kata berantukan pada arti sendiri.
Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati atau tiada mati-matinya
O Jendral, bapa, bapa,
tiadakan engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya kanan tetap tinggal pada tidak-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditup angin, karena
ia berdiam di pasir kering
O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia.
O Jendral, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini

Ah mengapa pada hari-hari sekarang, matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi.

Jendral, mari Jendral
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat-keyakinan,
engkau bersama kami, engkau bersama kami,
Mari kita tinggalkan ibu kita
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari jendral mari
sekali in derajat orang pencari dalam bahaya,
mari jendral mari jendral mari, mari.......


Indonesia,
No. 2
Maret 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Minggu, 02 November 2008

Pusi dan doa emha

Pusi dan doa emha
dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru

ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia

hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu
menjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan
bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya,
maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku
jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu
adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku,
demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu

demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadakudalam alam gelap..
senada semilir berayun
saat tubuhku terasa getir tanpamu
kucari ke dasar hatiku jawaban tentangmu berlalu
kemana ku berkata?
harus mencari ke seluruh isi bumi
kepergianmu yang misteri bagiku

Kumenatap kekosongan
sehamparan tumbuhan tak mammpu mendengarkan
desah yang kian lama menjadi kebingungan
iri aku melihat mereka bercanda
tertawa, berdua bersama
kejar mengejar kesana kemari
melepas lelah di jendela ku
langkahku memberontak
ajaib..
cemara ini mempersilakan aku bersandar
seakan mengerti galau hatiku
kulelap dalam kerindangan
samar samar malaikat menghampiri

tangan terulurkan menggenggamku erat
kuterbang bersama malaikat
dalam kejauhan
kulihat diriku terlelap tak berdaya
tak ingin kupungkiri kata hatiku..
aku jatuh cinta padamu...

namun semua haruslah berakhir higga di sini
walau tersakiti dalam...
biarlah..!

walau ku tahu hanya kau yang kuinginkan...
hanya kau yang kupinta.
menjadi kekasih abadi..

terlalu dirimu..
yang tak mampu membaca isi hatiku...
begitu dalam...
begitu deras ku terluka
terkulai lama dan takkan hilang..
tak mampu ku terpejam..
bayangmu selalu di benakku
mengambil semua mimpiku

malam...
bertaburan bintang menghiburku !

di saat ku terbaring..
terkapar saat melintas bayangmu..
sempatkanku tuk berhenti berpikir sejenak tentangmu

namun itu semua tak mungkin..
semua tlah berlalu
ku tak mungkin dapat melupakanmu
di dalam kerinduan hati
bergejolak kawan...
lupakan semua....
kini aku hanya memandang masa lalu kelam tiada pandang
ku terbiasa larut dalam isakan ini
dan tak ada kawan setia menjadi penadah air mataku
seandainya pandangku tak berubah arah
mungkin aku takkkan jadi se angkuh ini
menyombongkankesendirianku ini pada dunia
bagaimana angin menyambutku saat kau tak di sini ?
bagaimana malam kan datang saat hadirmu tak lagi di siisiku?
saat kurindu hadirmu malam ini...
seolah setan menggodaku tuk meninggalkan dunia..
ku ingin melihat sekilas wajahmu sekali lagi..
di saat wajah itu tersnyum untukku.
saat wajah itu ingin mendapat kasih sayangku..
namun aku terlalu bodoh membiarkanmu pergi!
AKU TERLALU TOLOL
TAK MAMPU MENGETAHHUI semua itu
bahwa dia juga mencitaiku......
SURAT UNTUK IBU PERTIWI

STOP PRESS, 1998
"untuk hidup mengapa begitu rumitnya?"
televisi menyala:
rupiah terpuruk jatuh
harga membumbung tinggi
banyak orang hilang tak tentu rimbanya
12 Mei 1998
mahasiswa mati tertembak siapa?
13-14 Mei 1998
kota-kota terbakar kerusuhan
perkosaan, teror!

21 Mei 1998: "sang raja lengser keprabon"
graffiti menyala di tembok-tembok: "pendukung reformasi"
eksodus: "singapura-hongkong-china-taiwan!"
munaslub: "turunkan para pengkhianat!"
ninja beraksi, orang berlari, maubere: "referendum!"
"mengapa hidup begitu rumitnya?"
seorang ayah bunuh diri bersama empat anaknya
1998, belum usai...
(hari ini ada berita apa lagi?)
Malang, 1998
DERING TELPON DARI MANA ASALNYA
dering telpon dari mana asalnya, berdering-dering saja, kabarkan apa,
apakah berita yang sama seperti kemarin, tentang sebuah negara berkembang, negara dunia ketiga?
hai, kau jangan memaki di situ, nanti telingaku pekak karena umpatanmu
kau kirim kabar apalagi kali ini? aduh, jangan lagi kau cerita tentang korupsi,
kolusi, tirani atau apa saja berita basi, aku tak mau dengar lagi...
kau mau demonstrasi?
silakan kalau berani!
cilegon 1996, malang 1997

SURAT UNTUK IBU PERTIWI (1)
ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun
dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan.
bikin daku hendak jadi ksatria.
jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun
nyiur di depan rumah kita itu.
ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan
lagu: kami jadi pandumu...
ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak
dulu.
ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang
padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.
tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa
ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak
menggubris petuahmu.
ujarmu:"hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu.
berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain..."
ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain
mungkin masih mengigatnya juga, ibu.
di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi
tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat
pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang
bercakapan.
di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan
benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata.
kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk
pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu.
begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup...
dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan
apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan
menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari
tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat
anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata...
ya, ibu, aku rasakan itu
kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu
yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang
begitu menakutkan!
dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu...
malang, 21 maret 1995

SURAT UNTUK IBU PERTIWI (2)
jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.
jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?
jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?
kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan
begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering
mengganggu kami.
ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?
dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu
mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih
banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.
jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu...
baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?
malang, 21 maret 1995

DIALOG KEBINGUNGAN
banten, 8 Juli 2045
(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa
mimpi. semcam de javu....................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):
malang, 30 Oktober 1995
kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman,
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.
"kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih
perjuangan, harus kau nikmati, anakku," katamu
ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi,
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)
"apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,
tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin ta
engkau menanam pohon tapi tak mengajak tanah
engkau menanam pohon tapi tak mengajak air
engkau menanam pohon tapi tak mengajak musim
engkau menanam pohon tapi tak mengajak pohon
engkau hanya menanam dirimu sendiri
KOK SEJARAH BERULANG

Matahari tak berubah
kemarin dan hari ini
sejarah ikut berulang
masih itu-itu juga
Semula ada angin segar
melayangkan mimpi indah
tapi udara semakin keruh
jalan-jalan pun berkabut
Kau masih di bawah kolong
berteduh bersama anak jalanan
seraya mendulang harapan
sekitar debu beterbangan
Siapa peduli pada nasibmu
ketika orang gencar berburu
tak membiarkan ada tersisa
tersisih tetap yang lemah
Masih begitu-begitu juga
Siapa membuat sejarah berulang

1998




ORANG-ORANG TIKUNGAN

Orang-orang bergegas ke tikungan
kereta melengking lewat
orang-orang itu pun lenyap
Di tengah gelanggang upacara
orang-orang itu tampil di panggung
mereka sangat mahir menyihir kata reformasi
Orang-orang tikungan
jitu membaca cuaca
tahu kapan mendung berlalu
seraya menunggu kereta
Orang-orang tikungan
muncul dari segala arah

1998



HARI-HARI AMARAH

Hari-hari penuh teriakan
hari-hari penuh makian
hari-hari penuh kutukan
hari-hari penuh perlawanan
hari-hari berdarah
hari-hari amarah
hari-hari airmata
hari-hari putus asa
hari-hari bimbang
hari-hari tak menentu
hari-hari menyakitkan
hari-hari harapan
hari-hari kemenangan
Semua itu terjadi karena ribuan hari terkerangkeng
ribuan hari penuh ancaman
ribuan hari penuh tekanan
ribuan hari kita diam dan dibungkam
ribuan hari kita tak tahu mau berbuat apa
ribuan hari sebuah rezim mempertahankan kekuasaannya
dengan segala cara dan rekayasa
ribuan hari kita diadu domba
ribuan hari mereka membodohi kita
ribuan hari mereka menjarah daging, darah, pikiran,
perasaan, harapan dan mimpi-mimpi kita
mereka mengepung kita
mereka memasang telinga dan mata di dinding rumah kita
Penjarah-penjarah berdasi
penjarah-penjarah bermobil mewah
melintas di jalan raya dengan pongah,
dengan senyum palsu di ujung senyum
ia tembakkan senjata
ia lakukan penculikan
ia lakukan penangkapan
ia sekap mulut, hati nurani, dan hari depan bangsa
Ketika penjarah jalanan menyerbu toko-toko
siapa guru dan panutan mereka kalian semua!
kalian yang telah menjarah negeri ini sejak sepuluh,
dua puluh, atau tiga puluh tahun lalu
Kini negeri ini engkau sengsarakan
semua telah habis, habis,
habis...
bahkan juga airmata kami begitu pedih, begitu memilukan
negeri ini engkau biarkan sekarat dan luka parah
Sekarang engkau jangan lari
bersujudlah di depan airmata rakyat
jalani hukuman di dalam penjara derita rakyat
Kini engkau terpuruk oleh dosa-dosamu
engkau terkapar oleh suara hatimu sendiri
engkau sangat terlambat untuk jatuh terhormat
engkau biarkan rasa sakit berkepanjangan
negeri dalam duka cita yang memilukan
Sejarah meningalkanmu sendirian!

1998

SISA KERUSUHAN
Oleh :
Nina Minareli




Kubaca tarian langit dalam tidurmu
Di antara gerakan awan dan sisa cahaya
Yang mengukir tubuh sebuah kota
Di mana musik-musik menjalin waktu
Mengalun bersama deru angin dan kalbu
Kerusuhan di nafasmu menerbangkan asap kekalahan
Bagi orang-orang yang patuh pada ribuan matahari
Sedang kita yang bermimpi hanya menggarisi kata-kata
Di antara lidah yang memanjang dalam keredupan
Dalam pepatah-pepatah iklan dan boneka-boneka
Kaset-kaset bajakan serta model-model kepalsuan
Hingga kita pun tumbuh sebagai pembenci rasa lapar
Dan segala hal membusuk di bibirmu yang nakal
Sungguh sulit kita mencari jawaban
Mencoba berlari ke diskotik dan pangkalan narkotik
Mencari teman tertawa sebelum dirantai penguasa
Sebelum matamu terbuka memandang lautan peristiwa
Di pinggir jalan di mana tempat lengan dan kakiku
Kau tinggalkan

1998


BAGI PARA DEMONSTRAN

kemaren masih kulihat kau
menciumi bunga-bunga yang mati*),
luka bangsa yang kekeringan air mata karena selalu saja janji,
bertumpah ruah menggerogoti ruang-ruang kosong,
sedangkan betapa kita damba lagu-lagu
kenyataan dari segala omong kosong itu
bila impian hanya membentur dinding-dinding ketidakpastian
bila diskusi hanya sekadar membungkam segala aspirasi
dan keterbukaan tak lebih dari kedok itu sendiri
maka dengan tulus segeralah berangkat
sebab bagi kebenaran tak ada kata-kata untuk diam
tiga, lima, sepuluh mungkin seratus jantung lagi yang akan terkapar,
kenang dan kuburlah risau mereka
taburkan kembang-kembang kegembiraan
bagi hati yang sekarat hingga sampai saat menangis,
menangis kita sepanjang jalan
berkabung terhadap hati nurani yang terinjak dan dilecehkan
mendukai hilangnya sesuatu yang mestinya milik kita
atau menjeritkan ratap sebagai ungkapan atas segala korban
lalu marilah kita pestai semua kekalahan ini
dengan peluru-peluru karet, gas air mata, pentungan listrik
bahkan suara letusan dan darah,
dan darah kita kalungkan semua pada saudara kita
yang luka kemaren
masih kulihat kau menciumi bunga-bunga yang mati,
mungkin gugur atas nama cinta hari ini
dengan puisiku
marilah berangkat ke jalan,
ke ruang-ruang terbukanya pikiran
sebab impian tak ada lagi di kantor-kantor
di gedung-gedung atau di meja-meja perundingan
dengan puisiku
tak akan ada pembakaran dengan puisiku
tak akan ada kekerasan dengan puisiku
yang ada hanyalah perjuangan
perjuangan!

payakumbuh, Mei 1998

SAJAK PERLAWANAN
oleh :
Nina Minareli



Kali ini ingin kutuliskan sebuah sajak perlawanan
Dengan secangkir kopi pahit yang kau sediakan
Di meja makan
Meskipun roda musim tak memuat lagi angin rindu
Atau kicau burung di tengah kota itu
Tapi langit dan lautan masih tetap akan menyerap kata-kata
Di mana sebuah jembatan, pohon-pohon dan pebukitan
Akan menerjemahkan segalanya
Biarkan saja kita di sini meniti satu per satu malam
Dengan kegelisahannya yang panjang
Walau nafas-nafas di sudut kota mulai berbau bara
Walau harga luka melayang-layang di atas telunjuk dunia
Biarkan saja sebab hujan akan menjabarkan sajak-sajakmu
Sebagai kekuatan di luar badai
Dan perlawanan di dalam penjara angin
Yang bergaris pada bilik nurani kita sendiri
Mulailah kawan
Lawanlah pelan-pelan!

1998



Sajak-sajak Peduli Bangsa
Republika Online edisi : 13 September 1998


KOTA BIRU
Oleh :
Nina Minareli


Lewat jalur jalan di pinggir taman
Dan rel-rel yang memanjang ke tengah perkotaan
Serta suara lokomotif yang sebentar-sebentar mengerikan
Semuanya seperti menyimpan keheningan
Sepanjang ruang dan gemuruh para pejuang di jalan
Di mana mereka tengah menghamburkan darah ke arah bulan
Tapi matamu kali ini lebih terbuka dari kata-kata
Dari sebuah jembatan yang menanjak ke angkasa
Atau dari sebutir peluru yang ditembakkan ke angkasa
Hingga di situ kudapatkan engkau mematung sendirian
Di depan cermin langit yang letih
Di mana seorang penari turut menggoyangkan hari
Memeras dan memahat keringat waktu sendiri
Di sekujur tubuh negeri ini
Malam yang dingin di bibir kota ini
Di tengah padang rumput yang tinggi
Dan percikan air hujan yang mengguyurkan kegelisahan
Ada sebuah tangga yang berputar menuju kamar impian
Dengan diterangi sedikit cahaya bulan
Aku hanya mampu menahan getaran musim di nafasmu
Tapi angin seolah memaksaku untuk terus berkhayal
Seperti musim yang kehausan melumat sisa waktu
Di mana orang-orang tengah berlibur
Sebelum kekalahan benar-benar terlanjur


1998

rendra bersyair
AKU MENDENGAR SUARA
JERIT HEWAN YANG TERLUKA
ADA ORANG MEMANAH REMBULAN
ADA ANAK BURUNG TERJATUH DARI SARANGNYA
ORANG-ORANG HARUS DIBANGUNKAN
KESAKSIAN HARUS DIBERIKAN
AGAR KEHIDUPAN BISA TERJAGA



yogyakarta
1974



--------------------------------------------------------------------------------

Kepada jaranireng

Kepada Jaranireng: Aku dan Tulisanku

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....
Kumpulan Puisi
Puisi-puisi Indra Tjahyadi
MEMAJANG LANGIT
Kupajang langit
Malaikat-malaikat merintih
Dalam tidur yang sepi
Bulan terbakar
Dan sajak-sajak lahir dari kebencian
Matahari. Aku tarik segenap luka
Dan bau busuk orang mati
Nafasku jadi buruk
Dan dipenuhi niat jahat yang suci
Aku ubah bumi jadi puing-puing
Bersekutu dengan iblis
Atau bayang-bayang hantu di malam hari
Aku tapaki jurang-jurang kegelapan
Yang ditorehkan burung-burung hering
Menatap kekuasaan dengan mata
Yang bengis. Kubiarkan
Lumpur-lumpur melompat dan banjir
Yak terbendung lagi. Menyeret mobil-mobil
Dengan darah dan seratus keringat musim:
O betapa khidmat kelicikan mengubah hari
Jadi sungai-sungai sampah yang pesing
Ada bangkai-bangkai tikus
Dan para pengemis yang memberi makan
Kucing-kucing kurus. Seolah membuka-buka
Mimpi, meneteki tanah dengan seribu
Kebosanan yang keji
Ketika gelap sedemikian gaib
Dan bunyi hujan menjelma pesta
Dari seribu kematian yang picik
Aku berpegang teguh pada angin, mencari-cari
Maut pada segenap ranjang yang sedih
Dan dalam segenap hasrat yang paling jijik
Berlingkaran seperti seekor cacing
Menghisap puting-puting anyir
Dari pelacur-pelacur tua yang bunting
1998.
PADA MATAMU YANG BENING
Pada matamu yang bening
Tahajud daun-daun
Kuinsyafi dalam luka dan batu-batu
Bunyi-bunyi guruh meluap dan membutakan diamku
Bau-bau hujan seperti birahi-birahi musim
Yang menggeram dengan kapak dan sekalian palu
Dan ketika kilatan-kilatan petir memecut
Membakar langit dan pohon-pohon Randu
Seperti radang kesunyian yang melesatkan bara
Dan tombak-tombak unggun
Ribuan anggur kureguk
Lewat geliat gelubat kabut yang memeriahkan sedu
Seperti peronda-peronda kota
Yang selalu bertanggung jawab
Pada setiap hening dan lelehan-lelehan salju
Dari setiap sakit yang tak tersmbuhkan
Atau kudeta-kudeta panjang yang bergerak lambat
Seperti kristal nafasmu. Tapi belati-belati rindu
Adalah genangan-genangan darah yang mengombak pada bibirmu
Memerah seperti gincu, meledak seperti rastusan peluru
Akar-akar membasah, tapi waktu seperti kemaluan
Bumi yang rapuh. Kini, aku pun mencapai
Kebeningan kelabu. Dan jejak-jejak kaktus merancak
Menusuk kakiku, kubiarkan setiap pesta angin
Mengajariku bercakap dengan ratusan bangkai atau patung
Patung batu, mengajakku setubuh di samping ambalmu
Mengikhlaskan seratus pembunuhan seperti permainan marak
Dari cahaya dan kepompong-kepompong embun:
Tempat di mana sajak-sajak bermula dan para pejalan
Menyaksikan bendera-bendera dikibarkan seperti gelombang rambutmu
1998.
MANAL PRALAYA
Aku tak lagi berhadapan
Dengan harapan, kiranya. Menjelma
Kesenyapan yang dibawa jarak
Dan kematian. Serupa kerikil dan jalan
Jalan raya, hatiku pun penuh pengemis
Dan para pengamen
Membingkai kemiskinan, menyimpan
Kebencian pada mobil-mobil yang berjalan
Aku pulung segenap ganja
Dan bangkai-bangkai lelaki tanpa kepala
Memberitahu, bagaimana Maut bergerak
Mengayun-ayunkan kapak dan parang-parang juga
Aku sadar jika segala peristiwa
Telah menjelma hantu
Dan burung-burung yang melintasi selokan
Menemui bulan, juga gerhana penuh darah
Berserakan. Segenap gagasan jadi berledakan
Di kemaluanku, menyaksikan gedung-gedung
Tumbuh dan dibakar penduduk, di matamu
Menggali-gali kubur, menjilat-jilat gemuruh
Yang melumuri badai dan ratusan geludhuk
Semacam retakan-retakan batu yang terlempar
Ke arahmu, Neraka datang bersamaku
Berputar-putar, mencumbu pelacur-pelacur tua
Yang mesum. Seolah bersetubuh
Menciptakan bayang-bayang kabut dari kutu-kutu
Rambutmu yang harum, mengenyot puting-puting
Payudaramu, memilin klentit-klentit
Vaginamu yang penguk: di mana maling-maling ayam
Digantung, diarak sepanjang kampungmu
Sepanjang kampungku
1998.
GEHENNA
Aku berjalan ke arah matahari
Arak-arakan rama bagai larungan sampan di atas sungai
Styx yang merah. Dari puing-puing bekas
Gereja, kulihat bangkai-bangkai awan
Seperti lembaran-lembaran langit yang dilimpahi arwah
Dan warna gerimis yang padam. Tapi selalu gagal
Membaca aroma tanah, seperti letak puting
Susumu yang tegak bagai pilar-pilar bara dalam kobaran api
Atau pelukan sungai yang membawamu pada gerhana
Ada darah, bunyi-bunyi senapan seperti ledakan
Pada ambal yang payah. Dalam kegelapan
Yang mengubah dunia jadi Maut dan cahaya. Jadi ceceran ingus
Dari para pejalan yang kehilangan rumah dan peta-peta:
O engkaukah suara, gumpal-gumpal payudara yang melukis tahun
Dalam impian lazuardi dan sperma, dengan cuaca-cuaca
Yang tercekik dan tertahan pada laju taufan dan ombak, seperti rasa
sedih
Atau bahasa-bahasa kangkung yang menjadi isyarat lain bagi perdu:
Semacam anyelir atau pikiran-pikiran yang beracun
Barangkali mataku terlampau cemburu pada sesuatu yang tak ada
Dan lewat letupan-letupan sayap yang menghisap kupu-kupu
Dan seratus kunang, seperti seratus kata sunyi yang terbakar kelamin
Atau aku yang terus berjalan ke arah matahri
Meski harapan hanyalah manik-manik yang menutup musim dan menjadi
Sebuah kerabunan bagi hening: padang, di mana Kristus dan Judas
Bertukar tangkap dalam sepi, ketika salju mencair
Dan seluruh bumi terangkat, seperti bayang-bayang orang suci, sebelum
engkau
Tersadar dan aku menemukan jalan untuk kembali…
1998-1999.
SEPERTI PERCIKAN GERIMIS
Seperti percikan-percikan gerimis yang berkilau pada daun
Tombak-tombak musim melesatkan keperihanku
Anak-anak kunang berpendar dan melepaskan waktu
Butir-butir embun menyusut di dasar jejakku
Akar-akar menyerap setiap buluh kelabu
Rumput-rumput memeluh di sepanjang langkahku. Tapi seperti
Keheningan yang menjelma menara setelah jalan yang meliuk itu
Semuanya terlihat begitu berkilau dan runtuh
Seperti ingin menopang angin
Aku catat semuanya dalam sajak-sajak bening
Udara penuh kebisuan dan warna cuaca yang dingin
Seluruh kesunyian tegak dan menjelma retakan-retakan dinding
Lantas mencari aroma mayatku yang sedih
Kini, segalanya telah saling berhadapan dalam senyap yang nyaring
Meski patung-patung telah terbakar. Dan pada kuburan
Kesepianku yang asin seribu cahaya telah diterjunkan di sana
1999.
PANEMBRAMA
Di antara tabir tebing kelam
Dan ceruk jurang malam
Kubayangkan
Lekuk liuk tubuhmu yang sintal
Dadamu yang gumpal
Serta putik puting susumu yang terjal
Bagai pilar-pilar penyangga menara
Kesunyianku berdamai
Dengan seluruh luka dan lidah-lidah halilintar
Berdentam-dentam di penjuru mega
Berjuntaian bagai jenggot-jenggot kilat
Menjelma isyarat-isyarat tajam
Yang membakar awan
Dan seluruh gugusan cakrawala
Kenangan dan harapanku menjemput
Segenap ratap, juga harum aroma
Nafasmu yang swarga
Dan ketika bias binar bulan pucat, membentur
Dinding dan sekalian tembok-tembok plaza
Berusaha menginsyafi muram
Tapi selalu gagal meramalkan wajah malammu yang lindap
Lumut, akar dan rerumputan
Menyerap tuba keterasinganku yang pekat
Melesakkannya ke dalam farji bumi
Yang adas, lantas mendetakkannya kembali
Sebagai ribuan gempa
Di mana pelir penguk langit muncrat
Memuntabkan sperma, juga maki darahku yang laknat
Aku ingin sekali memberinya nama
Dengan seluruh hasrat
Dan kesendirianku yang bejat
Memeluk gerak gerah kesyahwatanmu yang giras
Membiarkan seluruh Maut bertandak
Bertayub dengan kafan dan seluruh kematian
Hingga mataku buta dan mayatku remuk berceceran
1999.
PERTOBATAN BURUNG-BURUNG
Kuikuti seribu laku
Yang menjelma pertobatan burung-burung
Kebisuan merupa retakan tanah
Yang mengekal pada batu
Kerinduan adalah bahasa lain
Yang menjelma bentuk-bentuk guratan pada perdu
Bayang-bayangku jatuh, melindap dan beku
Tak ada cahaya
Bahkan kegelapan menjelma suara-suara gaib
Yang diluncurkan kabut. Keperihan
Gerimis yang pemurah mengelus leherku
Lalu lidahnya yang hangat mencercap jasadku
Seperti orang-orang yang berciuman di balik gerumbul
Kesunyian merayapi makamku
O betapa kegamangan telah menjadi
Begitu mengerikan serupa
Gerak tanganmu. Tidurlah bersama burung-burung
Sebab setelah aroma angin yang senyap itu
Seribu musim telah berlalu. Seperti perahu-perahu
Dengan warna malam di lingkar lehermu
Kegalauan yang pemurah membunuh mayatku
1999.
FRAGMENTASI 191299
Lewat keheningan yang tak
Dibasuh Sorga
Kuurai serobu dzikir dan kata-kata
Yang tak diinginkan Tuhan. Kegelapan menjelma
Guntur yang meledak di utara. Lalu
Dari reruntuhan gedung-gedung dan menara
Seperti tarian-tarian lelawa
Tapi, kesunyian alangkah mengerikannya
Kerinduan-kerinduanku tak ubahnya
Patung-patung retak di taman
Taman. Harapan-harapanku serupa trowongan
Trowongan pengap dengan seribu pengemis
Yang tertidur di dadanya
Seperti persetubuhan antara musim dan derita
Dengan anak-anak kunang yang melingkarinya
Tapi, kesunyian alangkah mengerikannya
Seperti daun-daun yang runtuh
Dan dikuyupkan hujan
Aku adalah seribu tahun dalam penampakan
Bening yang merindukan Isa. Dan
Di antara barisan-barisan lumut yang ditumbuhi
Dinding-dinding rengat, menjelma sajak
Sajak lindap yang membekap dan begitu bebal
Tapi, kesunyian alangkah mengerikannya
Dikekalkan dari timbunan mayat
Dan anyir darah
Demikianlah, kuamini diriku, begitu perih
Dan terlunta. Dan pada seribu ledakan taufan
Menjeritkan seluruh persalinan gagak
Gagak. Seperti keriuhan para perusuh atau kota
Yang dibalur bara, dengan matanya yang bulat bejat
Tapi, kesunyian alangkah mengerikannya
1999.


JL. KARANG MENJANGAN (Pk. 23.35)
Inilah kenyataannya
Jalan-jalan hitam yang senyap
Tahun-tahun gerimis yang suram
Seperti kata-kata yang tertahan
Dan hanya akan ditemukan dalam sayatan
Kota ini tak bernama
Keheningan ini tak bernama
Tapi di kedalamannya kita akan senantiasa menemukan
Bagaimana pesona sayap-sayap kesunyian
Melesatkan seluruh tombak cahayanya ke Sorga
2000.

KEKASIH YANG KELU

KEKASIH YANG KELU
Untuk seorang sahabat

Oleh :
Asrul Sani

Air mata, adalah sekali ini air mata dari hati
yang mengandung durja,
Dan kelulah kekasih senantiasa berpisah
Tiadalah lagi senyum yang akan timbul karena suatu kemenangan
Habislah segala kenangan-selalu pada fajar-selalu
yang membawa harap.


Sudah tahu, suatu kesalahn sekali,
Telah merobah titik asal harap,
Dan karena gelombang yang memukul tinggi
dengan segala rahasia dan senjata yang ada dalam kerajaannya
Telah jadikan suatu cinta yang marak-hidup lepas dari lembaga
Dan gamitan tangan dan mata berhenti pada suatu keluh
sedan dari jiwa yang lberduka.

Bangunlah kekasih, berilah daku bahagia,
Dari segala cahaya yang ada padamu.
Bagiku, keluhan yang lama akan
Mematikan segala tindakan,
Membuat lagak tidak punya tokoh
Ucapan kehilangan asal dan bekas
Serta ini pulau-banyak dan intan laut yang kukasihi,
Akan menjadi suatu bencana dari kelumpuhan orang berpenyakit pitam


Aku akan hilang-lenyap, tiada meninggalkan nama.
Suatu sedih sangsai dari diriku,
Atas suatu panggilan dengan suara kecil
Dari laki-laki di depan laut di belakang gunung.

Berikan suatu pekikan peri,
Dan ini akan lebih membujuk
Dari suatu mulut terbuka, tapi tiada berkata.
Air mata yang terbayang, tetapi tiada berlinang
Dari suatu kebisuan, dari suatu kebisuan

Jika ini adalah suatu impian,
Maka janganlah bermimpi,
bagaimanapun terang malam.
Sedang daku akan berjaga,
sampai sosok tali dantiang
tergantung pada sinar pagi yang timbul.

Suatu khianat yang telah memakan cinta
suatu kebakhilan manusia yang enggan beryakin
suatu noda,
Dan suatu derita dan keluh uang mengelu
......................


demikianlah sahabat mari berdoa,
mari berdoa,
kita akan berdoa,
kita akan berdoa, kita akan berdoa
kita akan berdoa, untuk pagi hari yang akan timbul





Indonesia,
No.7
Agustus 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Jumat, 31 Oktober 2008

DETIK AIRMATA (belum selesai)

Abdul Haris Awie


Matahari telah berlalu disenja itu,
Dilantai 2 gedung megah,
Diantara debu yang berhamburan,
Dalam kotak kamar,
Kugapai seorang lelaki tua,
Dengan alas koran menunnaikan kewajiban magrib ini.

Lelaki tua itu tahu aku datang,

2 Juli 2010
Lelaki itu dengan wajah keriput,
Dengan harap,
Anakku..... tinggikan tiang-tiang pertaruangan yang kamu hamparkan,
Anakku.... jangan lelah dan lakukanlah,
Anakku.... aku ikhlas kamu sukses dimasa datang,
Anakku.... kan kuberi yang terbaik hanya untukmu,
Anakku.... bisakah kamu memahamiku.

Usang sejadah, membuat nalarku tak usang
Usap air sembahyang, kudoakan kamu,
Hingga airmata menetesi pipi ini,
Jangan lagi hidup dimasa bodoh

MATINYA DEMOKRASI

Abdul Haris Awie
LAGU BUAT UKM PILAR KOTA

Prolog :
“Ketika dunia teknologi merambah seluruh ruang, ketika budaya hampir punah termakan zaman, ketika dunia menuju kehancuran isinya, Pendewa-dewaan semakin memuncak meruntuhkan nilai religi....... Matikah demokrasi”

Apalah arti demokrasi,
Untuk apa demokrasi,
Untuk siapa demokrasi,
Hendak kemana demokrasi dimaknai,

Apalah arti kedaulatan,
Dari siapa kedaulatan,
Siapa yang berdaulat,
Masih adakah tempat berdaulat.

Reff:
Para legislator satu satu menuju meja hijau,
Para pejabat terperangkap transaksi kolusi,
Banyak pejabat hanya mau kerja jika ada isi kantongnya,
Sampai kiamat makan uang haram.

Tersipu ia dengan laguku,
Tamengnya dia “pencemaran nama baik”
Pembuat undang-undang adalah akal-akalan
Sampai lagu ini terhenti, korupsi dan kolusi tak terhenti

…………….
Matinya demokrasi,
Dimulut harapan demokrasi,
Matinya demokrasi.
Disirna waktu tamatnya demokrasi

AIRMATAMU UMMI

Jarak ini memisahkan kita,
Memaksa aku merindu kasih dan sayangmu
Terbesik ingin bersua,
Entah esok, lusa dan nanti

Jangan ada airmatamu ummi
Sebab aku sedang belajar berjalan

(Selama tahun masih kusebut)

KERINGATMU AYAH

Jika sampai masaku,
Kita akan duduk bersama
Bercerita tentang hari kemarin
Keringatmu masih belum kering ayah.

(Tak ada waktu yang hilang)

DISINI AKU BISA MELUPAKANMU (Untuk Adika saya lintang sore)

"sejak tahun 1998 Lintang sore mengalami kelumpuhan, namun semangatnya tak pernah pudar...... terbaring lemah ditempat tidur "dudukpun ia tak mampu""

Jejak-jejak tapak kaki yang pernah kita lalui,
Meski rerumputan bergati setiap musim,
Namun bayangan lalu masih kan kuingat,
Dimasa kita pernah tertawa becanda dibawah senja yang menyapa

Kini aku disini,
Aku bisa melupakanmu namun kutak rela,
Masih disini pula aku mau mengingatmu,
Menanti sampai mentari terbit dan lahir setiap harinya.

Sahabat……. Kamu disana, aku rasakan itu.
Menanti setiap desahan alam yang berlalu,
Kamu mencari arti setitik hidup,
Dan detik inipun aku juga belum mengerti akan semuanya.

Tidurlah sahabat,
Tunggu aku kembali ntuk menyapamu,
Jangan biarkan ranting-ranting persaudaraan,
Tersapu oleh badai yang menerpa rapuhnya dedaunan.

Pada malam yang sepi diam terpaku,
Tak seorangpun yang tahu akan kita,
Dimana kita saling tertawa jika mengingat masa kecil,
Masa yang semakin menggambleng kedewasaan kita.

Kutahu jiwamu besar untuk melawan arus,
Jangan ada air mata ataupun lara duka,
Jangan ada kalimat pisah,
Sebab semuanya aku tak sanggup tuk menerimanya.

Jika kamu mampu untuk berteriak,
Ungkapkanlah, aku sangup ntuk mendengarnya,
Jika kamu takut untuk itu,
Lalu kau posisikan aku siapa, ntuk masa lalu kita.

Tuhan penguasa jagad,
Kutahu kamu mampu mendengar gelegar jiwaku,
Terimalah doakan, tatap permohonanku,
Beri kami kesemapatan untuk memberi arti kebersamaan.

Makassar bernostalgia
Awie Herlang Saudara lamamu

Jumat, 17 Oktober 2008

LIRIK ANGIN

LIRIK ANGIN
(Abdul Haris Awie)

Dibacakan Oleh Eka Keswara Putra (UKM SENI PILAR KOTA Akepr Muhammadiyah Makassar) Pada peringatan ..................... IDI di BPRSUD Labuang Baji Makassar

Akar menancap dalam kekar tanah,
Perkasa Batang pohon mengurai cabang dan ranting-rantingnya,
Menggeretak derik diterpaan angin berhembus,
Melahap ditengah badai halilintar menyergap,
Menggeretak derik disayatan kilat menancap,
Menikam pohon di ujung ranting.

Akar menancap kedalam kekar tanah
Perkasa Batang pohon mengurai cabang dan ranting-rantingnya,
Menyerap air laksana kendi-kendi untuk bumi kaki berpijak dikemarau,
Dedaunan lebat tempat berteduh dikala matahari menyengat.

Akar menancap kedalam kekar tanah
Perkasa Batang pohon mengurai cabang dan ranting-rantingnya,
Ketika batang ditebang dengan rakus,
Maka akar tiada daya,
Ketika akar dilain waktu telah rapuh,
Maka batang akan menghempas gemulai runtuh.

Akar menancap kedalam kekar tanah
Perkasa Batang pohon mengurai cabang dan ranting-rantingnya,
Entah siapa yang jadi akar, entah itu kau atau aku, entah
Entah pula siapa yang jadi batang, entah itu aku atau kau, entah
Usai berdebat diarea itu,
Kita adalah satu simpul tak terpisah,
Tak kutancapkan akar kedalam batang,
Pun batang tak kan mampu berubah jadi akar.

Akar menancap kedalam kekar tanah
Perkasa Batang pohon mengurai cabang dan ranting-rantingnya,
Diujung timur dann barat sana,
Dipinggir selatan dan utara sana,
Tak kugapai akar kekar tanpa batang kekar
Pun tak kutemui batang kekar diseling akar rapuh.

Jika kau adalah batang,
Dan angin datang menghempasmu,
Maka genggaman akar akan mencengkram tanah tak memberi restu,
Jikapun kau adalah akar
Dan kemarau mengikis hingga mertakkanmu,
Maka tak berdayamu adalah kehancuran batang.
Mari, lebatkan kembali hutan nusantara,
Aku atau kau akar
Aku atau kau batang
Bukan itu perdebatan penting.

Seragam putih-putih yang melengkat dalam tubuh ini sebagai perawat
Sangat menghargai jas putih yang melengket ditubuhmu sebagai dokter abdi bangsa.

Kita tak akan berhenti sampai disini,
Sampai akar atau batang itu tumbang ditelan bumi,
Sampai semua isi bumi habis dilahap alam.


Makassar, 17 Oktober 2008

Rabu, 02 Juli 2008

Syair Kemanusiaan Buat Para Pekerja Putih-Putih

Syair Kemanusiaan Buat Para Pekerja Putih-Putih
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep

aku mengenalmu lewat malam yang menjadi bagian dinasmu,
aku juga mendengar keluhmu lewat diam tatapanmu,
keluhmu dipeluh tak berpenghujung,
di setiap airmata kegundahan,

haru menjadi selimut,
menunggu fortuna berpihak,
di ranting-ranting desahan kata nurani,
katakanlah……sampai keujung dunia,
katakanlah……sampai ajal merenggut,
katakanlah……sampai nurani tak berkata,
di pijakan bumi yang berpihak, kan ada nada di senandung perjalanan panjang.

aku mengenalmu lewat sore yang gerah,
aku juga melihat kusam mata batinmu,
katakan padaku…di seiring denyut nadi yang masih ada
di detak jantung yang masih menyapa,
di derasnya darah mengalir untuk suatu pengabadian,

seragam kita adalah sama,
nurani kita juga sama,
lalu apa yang membedakan kita?
lalu apa yang membuatmu juga bagiku tak berdaya,
di remuk tulang tak berbentuk?

ketika tuan menancapkan belati di dada ini,
aku tak menangis, sebab darahku yang mengalir juga darahmu,
darah seorang perawat.

ketika kutancapkan belati di dadamu,

lalu dunia mana tempat kita berteduh,
sedang tuan telah berlalu dan tak bereingkarnasi kehidupan
di tanganku, tangan seorang perawat.

perawat di hamparan luas nurani,
kita telah memulai, dan kita telah melangkah,
bahkan terdengar nyaring ikrar yang kau bisikkan ditelinga,
jika di perjalanan panjang ini aku mati,
usah di kau mengirimkan karangan bunga duka,
kirimkan padaku api kemanusiaan
yang kualunkan di telinga lewat kesah yang pernah kusyairkan.
bahwa……perubahan telah menunggu dipundakmu.

Selatan Makassar, Awal Maret 2008

BILLIAR….MASTER…PERAWAT

BILLIAR….MASTER…PERAWAT
(Awie Sang Murid)

Aku ini seorang murid,
Masterku adalah para master,
Setiap hari didoktrin tunduk,
Jika tidak maka nilai error.

Aku ini seorang murid,
Meski aku telah tamat,
Aku disuruh menghargai para master,
Harus tunduk meski profesiku diinjak,

Aku ini seorang murid,
Gerah aku mendengar retorika para master,
Sok jago, sok hebat, dan sok suci,
Nyatanya ambisi jabatan jangan lupa jadi provokator.

Aku ini seorang murid,
Masterku memang paling jago,
Doktrinnya juga tak diragukan,
Karena aku telah terdoktrin,
Maka master sekalipun menghalangi langkahku,
Kan kucabik-cabik,
Sebab perjuangn telah terbentang,
Sebab darah para murid telah mendidih,
Sebab para petaraung-petarung untuk sebuah perubahan telah berdenyut hanyat,

Berapa jumlah master billiard,
Ah tau ah, gelap.
Juga berapa jumlah master keperawatan.
Entah pula aku tak melihatnya.

17 Maret 2008

HAMPIR SETENGAH ABAD

HAMPIR SETENGAH ABAD
(Ns Awie dan Barisan PPNI Kota Makassar)
Kukirim buat perawat senior yang mangabdi di desa terpencil

Kumulai menghitung sayap kata.....
Gemulai dilembar-lembar sajak,
Seragam putih-putih menembus sunyi,
Dihening malam, melintas disungai pengabadian,
Merintih para korban dimalam tak menunggu fajar.

Nurani terketuk pada sunyi yang temaram,
Nurani berkutik pada silau kebijakan tak bijak,
Hampir setengah abad dia berjalan,
Meniti cadas-cadas dilorong-lorong desa,
Keringat diurai diujung jalan menanjak,
Duduk dia bersimpuh, memandang jauh jalan setapak diketerusikan burung camar,
Jeritan korban menunggu di dusun sunyi pada rembulan sayup mengiris mendung.

Hampir setengah abad dia berjalan kaki,
Menapaki arus sungai bergemersik dibebatuan,
Lembah dan rimbunnya pepohonan,
Terik matahari yang menjerit,
Diguyuran hujan sore,
Halilintar menggertak pada dahan-dahan yang berguguran,
Jeritan korban menunggu didusun sunyi pada sore gemulai menuju malam.

Hampir setengah abad gajinya dikebiri,
Mengabdi pada kebijakan tak bijak,
Pada derasnya perburuan pangkat dan tahta,
Pertarungan para singa kelaparan,
Memangsa dan mencabik hak asasi anak bangsa.

Hampir setengah abad dia terusik,
Dilelapnya tidur malam,
Jerit keluarga korban mengetuk pintu nurani,
Bergegas bangun pada mata pengabdian,
Tak ada pilihan, maka perjalanan dimulai,
Menapaki semak belukar,
Dijalan tak bersahabat,
Hujan mengguyur diawal malam.

Kukerling mata diujung ranting dan dahan,
Kemarau telah merenggut dedaunan,
Kumerenung menakar kata,
Akarpun telah terkoyak oleh badai kebijakan tak bijak.

Kita yang berburu diperburuan airmata,
Kitapun bertaruh dipertaruhan nurani,
Seragam apa yang tuan pakai?
Apa arti nurani menurutmu tuan?

Sebait syair pernah kulukis,
Kita adalah anak-anak bangsa yang meringis,
Kita adalah sajak-sajak kemanusiaan yang tak tersentuh.
Kita adalah baris-baris seragam abu-abu.
Kita adalah seragam abadi dipengabdian,
Kita adalah mata bathin dikegundahan,
Kita adalah sejarah yang tak kesampaian,
Kita adalah penghuni dikerajaan tak bertuan,
Kita adalah potret penindasan,
Kita adalah potret tulang tak berbentuk,
Kita adalah Penggalan-penggalan kata tak berwujud sampai

Lalu kita ini siapa?
Lalu kita hendak kemana?
Berapa lama juga untuk siapa?
Tanyakan pada perawat yang bersimpuh diujung sunyi dusun.
Hampir setengah abad,
Serunai seruling didusun mengukir kegelisahannya,
Hampir setengah abad,
Suara binatang malam mengalun ditelinganya,
Hampir setengah abad,
Dia menatap gadis-gadis desa melintas disore terangkai,
Hampir setengah abad,
Dia menjerit namun tak ada yang mendengarnya.

Jalan Menuju Malino, Akhir Januari 2008

Puisi ini dilombakan pada acara Pentas Seni Keperawatan yang diselenggarakan oleh PPNI Kota Makassar bekerjasama dengan Mahasiswa Keperawatan se Indonesia Timur, Gedung Balai Jend. Muh Yusuf tanggal 16 - 17 Maret 2008

ANDA BISA BERGABUNG DISINI

Anda punyi karya sastra (puisi)? jika anda ingin jadi penulis, kirim email anda ke alamat email admint awie_ners@yahoo.com Anda Bebas "Menulis"