BAHWA TANAH MAKASSAR
(Oleh Ns. Abdul Haris, S.Kep)
Buat Ilham Arief Sirajuddin dan Soepomo Guntur, Dibacakan saat mendaftar di KPU Untuk 01/02 Makassar
Apapun suku tuan, apapun agamu tuan, apapun bahasa yang tuan pakai
Kita adalah satu rasa,
Hari ini kita yang berkumpul disini, adalah kumpulan para petarung tangguh dan petarung sejati, Petarung yang takkan pernah berhenti ditengah jalannya pertarungan, petarung yang memenangkan keteguhan dan prinsip.
Tuan-tuan para petarung tangguh,
Ketika tuan mencabut badik dan menacapkan kedalam dada saya,
Maka darah yang keluar dari tubuh saya adalah darah orang Bugis Makassar,
Ketika aku mencabut badik Makassar dan menancapkan kedalam dada tuan,
Maka darah yang mengalir bukan hanya darah tuan, tetapi darah orang bugis Makassar, Sama sepertiku yang juga orang Bugis Makassar.
Siapapun tuan yang datang hari ini?
Hari ini, tuan-tuan telah menjadi petarung tangguh,
Hari ini tuan-tuan adalah perwakilan dan pemaknaan akan keterwakilan kata….. rakyat Makassar,
Tahukah tuan, dimana kaki tuan berpijak,
Tataplah tuan, bahwa telapak kaki tuan bertumpuh pada satu tanah,
Tanah Makassar….
Tanah Makassar adalah tanah tumpuan masyarakat yang bukan saja dicintai Masyarakat disepanjang Sulawesi, Namun Makassar adalah tanah kebanggan seluruh Rakyat di seluas hamparan laut dan daratan beserta rakyat di Kawasan Timur Indonesia.
Bahwa tanah Makassar adalah tanah idola,
Maka Pemimpinnya juga harus idola,
Bahwa Tanah Makassar adalah tanah panutan di KTI,
Maka pemimpin ditanah Makassar adalah mereka yang telah lama menyelam kedalam relung rasa dan jerit Rakyat kota
Maka pemimpin yang memimpin tanah Makassar adalah berkearifan dikesejatian prinsip “Siri’ na Pacce”
Maka Pemimpin di Tanah Makassar haruslah yang teruji dan berpengalaman.
Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat dengan kearifan,
Maka Pemimpin rakyat Makassar adalah yang teruji kearifannya,
Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat mayoritas kesederhanaan,
Maka pemimpin rakyat Makassar adalah teruji kesederhanaannya.
Bahwa penduduk Makassar adalah berjuta kepentingan,
Maka pemimpin penduduk Makassar adalah yang bijak pada perpedaan kepentingan,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Kuserahkan Makassar pada otak dan hatimu,
Kuserahkan Makassar pada setiap detak jantungmu,
Kuserahkan Makassar pada nurani dak ketulusanmu,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Aku mengenalmu dikeindahan anjungan pantai losari hasil logikamu,
Aku mengenalmu dilingkar kota ditengah rakyat kota mengais hidup,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Peluh dikau berjalan tertatih-tatih,
Memikul beban dan keluh anak negeri,
Masih pula ada yang menghujatmu,
Selamat Datang ilham Arief Sirajuddin,
Pada keringatmu yang bercucuran,
Pada airmatamu yang membasahi sejadah panjang,
Diperenungan tengah malammu bersimpuh,
Masih pula ada yang menghujatmu.
Aku tau kau hadir disetiap sisiran dan detak jantung kota,
Bersua dihelai kebijakan menuju permadani,
Karakter dan prinsip dalam santun,
Mengalir deras dalam darahmu,
Mengetuk dalam detak jantungmu.
NAKKE ACO’, KATTE?
Makassar, 11 Juli 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar