"sejak tahun 1998 Lintang sore mengalami kelumpuhan, namun semangatnya tak pernah pudar...... terbaring lemah ditempat tidur "dudukpun ia tak mampu""
Jejak-jejak tapak kaki yang pernah kita lalui,
Meski rerumputan bergati setiap musim,
Namun bayangan lalu masih kan kuingat,
Dimasa kita pernah tertawa becanda dibawah senja yang menyapa
Kini aku disini,
Aku bisa melupakanmu namun kutak rela,
Masih disini pula aku mau mengingatmu,
Menanti sampai mentari terbit dan lahir setiap harinya.
Sahabat……. Kamu disana, aku rasakan itu.
Menanti setiap desahan alam yang berlalu,
Kamu mencari arti setitik hidup,
Dan detik inipun aku juga belum mengerti akan semuanya.
Tidurlah sahabat,
Tunggu aku kembali ntuk menyapamu,
Jangan biarkan ranting-ranting persaudaraan,
Tersapu oleh badai yang menerpa rapuhnya dedaunan.
Pada malam yang sepi diam terpaku,
Tak seorangpun yang tahu akan kita,
Dimana kita saling tertawa jika mengingat masa kecil,
Masa yang semakin menggambleng kedewasaan kita.
Kutahu jiwamu besar untuk melawan arus,
Jangan ada air mata ataupun lara duka,
Jangan ada kalimat pisah,
Sebab semuanya aku tak sanggup tuk menerimanya.
Jika kamu mampu untuk berteriak,
Ungkapkanlah, aku sangup ntuk mendengarnya,
Jika kamu takut untuk itu,
Lalu kau posisikan aku siapa, ntuk masa lalu kita.
Tuhan penguasa jagad,
Kutahu kamu mampu mendengar gelegar jiwaku,
Terimalah doakan, tatap permohonanku,
Beri kami kesemapatan untuk memberi arti kebersamaan.
Makassar bernostalgia
Awie Herlang Saudara lamamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar