Syair Kemanusiaan Buat Para Pekerja Putih-Putih
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
aku mengenalmu lewat malam yang menjadi bagian dinasmu,
aku juga mendengar keluhmu lewat diam tatapanmu,
keluhmu dipeluh tak berpenghujung,
di setiap airmata kegundahan,
haru menjadi selimut,
menunggu fortuna berpihak,
di ranting-ranting desahan kata nurani,
katakanlah……sampai keujung dunia,
katakanlah……sampai ajal merenggut,
katakanlah……sampai nurani tak berkata,
di pijakan bumi yang berpihak, kan ada nada di senandung perjalanan panjang.
aku mengenalmu lewat sore yang gerah,
aku juga melihat kusam mata batinmu,
katakan padaku…di seiring denyut nadi yang masih ada
di detak jantung yang masih menyapa,
di derasnya darah mengalir untuk suatu pengabadian,
seragam kita adalah sama,
nurani kita juga sama,
lalu apa yang membedakan kita?
lalu apa yang membuatmu juga bagiku tak berdaya,
di remuk tulang tak berbentuk?
ketika tuan menancapkan belati di dada ini,
aku tak menangis, sebab darahku yang mengalir juga darahmu,
darah seorang perawat.
ketika kutancapkan belati di dadamu,
lalu dunia mana tempat kita berteduh,
sedang tuan telah berlalu dan tak bereingkarnasi kehidupan
di tanganku, tangan seorang perawat.
perawat di hamparan luas nurani,
kita telah memulai, dan kita telah melangkah,
bahkan terdengar nyaring ikrar yang kau bisikkan ditelinga,
jika di perjalanan panjang ini aku mati,
usah di kau mengirimkan karangan bunga duka,
kirimkan padaku api kemanusiaan
yang kualunkan di telinga lewat kesah yang pernah kusyairkan.
bahwa……perubahan telah menunggu dipundakmu.
Selatan Makassar, Awal Maret 2008
Awie
Rabu, 02 Juli 2008
BILLIAR….MASTER…PERAWAT
BILLIAR….MASTER…PERAWAT
(Awie Sang Murid)
Aku ini seorang murid,
Masterku adalah para master,
Setiap hari didoktrin tunduk,
Jika tidak maka nilai error.
Aku ini seorang murid,
Meski aku telah tamat,
Aku disuruh menghargai para master,
Harus tunduk meski profesiku diinjak,
Aku ini seorang murid,
Gerah aku mendengar retorika para master,
Sok jago, sok hebat, dan sok suci,
Nyatanya ambisi jabatan jangan lupa jadi provokator.
Aku ini seorang murid,
Masterku memang paling jago,
Doktrinnya juga tak diragukan,
Karena aku telah terdoktrin,
Maka master sekalipun menghalangi langkahku,
Kan kucabik-cabik,
Sebab perjuangn telah terbentang,
Sebab darah para murid telah mendidih,
Sebab para petaraung-petarung untuk sebuah perubahan telah berdenyut hanyat,
Berapa jumlah master billiard,
Ah tau ah, gelap.
Juga berapa jumlah master keperawatan.
Entah pula aku tak melihatnya.
17 Maret 2008
(Awie Sang Murid)
Aku ini seorang murid,
Masterku adalah para master,
Setiap hari didoktrin tunduk,
Jika tidak maka nilai error.
Aku ini seorang murid,
Meski aku telah tamat,
Aku disuruh menghargai para master,
Harus tunduk meski profesiku diinjak,
Aku ini seorang murid,
Gerah aku mendengar retorika para master,
Sok jago, sok hebat, dan sok suci,
Nyatanya ambisi jabatan jangan lupa jadi provokator.
Aku ini seorang murid,
Masterku memang paling jago,
Doktrinnya juga tak diragukan,
Karena aku telah terdoktrin,
Maka master sekalipun menghalangi langkahku,
Kan kucabik-cabik,
Sebab perjuangn telah terbentang,
Sebab darah para murid telah mendidih,
Sebab para petaraung-petarung untuk sebuah perubahan telah berdenyut hanyat,
Berapa jumlah master billiard,
Ah tau ah, gelap.
Juga berapa jumlah master keperawatan.
Entah pula aku tak melihatnya.
17 Maret 2008
HAMPIR SETENGAH ABAD
HAMPIR SETENGAH ABAD
(Ns Awie dan Barisan PPNI Kota Makassar)
Kukirim buat perawat senior yang mangabdi di desa terpencil
Kumulai menghitung sayap kata.....
Gemulai dilembar-lembar sajak,
Seragam putih-putih menembus sunyi,
Dihening malam, melintas disungai pengabadian,
Merintih para korban dimalam tak menunggu fajar.
Nurani terketuk pada sunyi yang temaram,
Nurani berkutik pada silau kebijakan tak bijak,
Hampir setengah abad dia berjalan,
Meniti cadas-cadas dilorong-lorong desa,
Keringat diurai diujung jalan menanjak,
Duduk dia bersimpuh, memandang jauh jalan setapak diketerusikan burung camar,
Jeritan korban menunggu di dusun sunyi pada rembulan sayup mengiris mendung.
Hampir setengah abad dia berjalan kaki,
Menapaki arus sungai bergemersik dibebatuan,
Lembah dan rimbunnya pepohonan,
Terik matahari yang menjerit,
Diguyuran hujan sore,
Halilintar menggertak pada dahan-dahan yang berguguran,
Jeritan korban menunggu didusun sunyi pada sore gemulai menuju malam.
Hampir setengah abad gajinya dikebiri,
Mengabdi pada kebijakan tak bijak,
Pada derasnya perburuan pangkat dan tahta,
Pertarungan para singa kelaparan,
Memangsa dan mencabik hak asasi anak bangsa.
Hampir setengah abad dia terusik,
Dilelapnya tidur malam,
Jerit keluarga korban mengetuk pintu nurani,
Bergegas bangun pada mata pengabdian,
Tak ada pilihan, maka perjalanan dimulai,
Menapaki semak belukar,
Dijalan tak bersahabat,
Hujan mengguyur diawal malam.
Kukerling mata diujung ranting dan dahan,
Kemarau telah merenggut dedaunan,
Kumerenung menakar kata,
Akarpun telah terkoyak oleh badai kebijakan tak bijak.
Kita yang berburu diperburuan airmata,
Kitapun bertaruh dipertaruhan nurani,
Seragam apa yang tuan pakai?
Apa arti nurani menurutmu tuan?
Sebait syair pernah kulukis,
Kita adalah anak-anak bangsa yang meringis,
Kita adalah sajak-sajak kemanusiaan yang tak tersentuh.
Kita adalah baris-baris seragam abu-abu.
Kita adalah seragam abadi dipengabdian,
Kita adalah mata bathin dikegundahan,
Kita adalah sejarah yang tak kesampaian,
Kita adalah penghuni dikerajaan tak bertuan,
Kita adalah potret penindasan,
Kita adalah potret tulang tak berbentuk,
Kita adalah Penggalan-penggalan kata tak berwujud sampai
Lalu kita ini siapa?
Lalu kita hendak kemana?
Berapa lama juga untuk siapa?
Tanyakan pada perawat yang bersimpuh diujung sunyi dusun.
Hampir setengah abad,
Serunai seruling didusun mengukir kegelisahannya,
Hampir setengah abad,
Suara binatang malam mengalun ditelinganya,
Hampir setengah abad,
Dia menatap gadis-gadis desa melintas disore terangkai,
Hampir setengah abad,
Dia menjerit namun tak ada yang mendengarnya.
Jalan Menuju Malino, Akhir Januari 2008
Puisi ini dilombakan pada acara Pentas Seni Keperawatan yang diselenggarakan oleh PPNI Kota Makassar bekerjasama dengan Mahasiswa Keperawatan se Indonesia Timur, Gedung Balai Jend. Muh Yusuf tanggal 16 - 17 Maret 2008
(Ns Awie dan Barisan PPNI Kota Makassar)
Kukirim buat perawat senior yang mangabdi di desa terpencil
Kumulai menghitung sayap kata.....
Gemulai dilembar-lembar sajak,
Seragam putih-putih menembus sunyi,
Dihening malam, melintas disungai pengabadian,
Merintih para korban dimalam tak menunggu fajar.
Nurani terketuk pada sunyi yang temaram,
Nurani berkutik pada silau kebijakan tak bijak,
Hampir setengah abad dia berjalan,
Meniti cadas-cadas dilorong-lorong desa,
Keringat diurai diujung jalan menanjak,
Duduk dia bersimpuh, memandang jauh jalan setapak diketerusikan burung camar,
Jeritan korban menunggu di dusun sunyi pada rembulan sayup mengiris mendung.
Hampir setengah abad dia berjalan kaki,
Menapaki arus sungai bergemersik dibebatuan,
Lembah dan rimbunnya pepohonan,
Terik matahari yang menjerit,
Diguyuran hujan sore,
Halilintar menggertak pada dahan-dahan yang berguguran,
Jeritan korban menunggu didusun sunyi pada sore gemulai menuju malam.
Hampir setengah abad gajinya dikebiri,
Mengabdi pada kebijakan tak bijak,
Pada derasnya perburuan pangkat dan tahta,
Pertarungan para singa kelaparan,
Memangsa dan mencabik hak asasi anak bangsa.
Hampir setengah abad dia terusik,
Dilelapnya tidur malam,
Jerit keluarga korban mengetuk pintu nurani,
Bergegas bangun pada mata pengabdian,
Tak ada pilihan, maka perjalanan dimulai,
Menapaki semak belukar,
Dijalan tak bersahabat,
Hujan mengguyur diawal malam.
Kukerling mata diujung ranting dan dahan,
Kemarau telah merenggut dedaunan,
Kumerenung menakar kata,
Akarpun telah terkoyak oleh badai kebijakan tak bijak.
Kita yang berburu diperburuan airmata,
Kitapun bertaruh dipertaruhan nurani,
Seragam apa yang tuan pakai?
Apa arti nurani menurutmu tuan?
Sebait syair pernah kulukis,
Kita adalah anak-anak bangsa yang meringis,
Kita adalah sajak-sajak kemanusiaan yang tak tersentuh.
Kita adalah baris-baris seragam abu-abu.
Kita adalah seragam abadi dipengabdian,
Kita adalah mata bathin dikegundahan,
Kita adalah sejarah yang tak kesampaian,
Kita adalah penghuni dikerajaan tak bertuan,
Kita adalah potret penindasan,
Kita adalah potret tulang tak berbentuk,
Kita adalah Penggalan-penggalan kata tak berwujud sampai
Lalu kita ini siapa?
Lalu kita hendak kemana?
Berapa lama juga untuk siapa?
Tanyakan pada perawat yang bersimpuh diujung sunyi dusun.
Hampir setengah abad,
Serunai seruling didusun mengukir kegelisahannya,
Hampir setengah abad,
Suara binatang malam mengalun ditelinganya,
Hampir setengah abad,
Dia menatap gadis-gadis desa melintas disore terangkai,
Hampir setengah abad,
Dia menjerit namun tak ada yang mendengarnya.
Jalan Menuju Malino, Akhir Januari 2008
Puisi ini dilombakan pada acara Pentas Seni Keperawatan yang diselenggarakan oleh PPNI Kota Makassar bekerjasama dengan Mahasiswa Keperawatan se Indonesia Timur, Gedung Balai Jend. Muh Yusuf tanggal 16 - 17 Maret 2008
AKU MENDENGARMU
AKU MENDENGARMU
Oleh : Abdul Haris Awie
Dibacakan oleh Walikota Makassar (Ir H. Ilham Srief Sirajuddin, MM)
Pada HUT PPNI Kota Makassar 17 Maret 2008
sayup kudengar nuranimu,
menyusup direlung-relung rasamu,
namun aku tak jauh dari tatapan matamu,
aku disini, dengan segala kekokohan rasa ingin menyelam pun dalam rasamu.
usah terpaku digelombang-gelombang samudera yang berkibar,
kita adalah petarung ditengah badai yang siap menggulung diam,
kita adalah akar yang mencakar bumi dengan kekuatannya,
lalu kenapa kita mesti berhenti,
kita bermimpi berlabuh disyahbandar cita,
aku adalah fisik dinuranimu wahai perawat……
aku adalah rembulan untuk malam yang sepi,
aku adalah angin berhembus diterik matahari menyengat,
usah berhenti di sini,
usah diam,
kabarkan padaku semangat yang berkobar dalam nuranimu,
beritakan padaku tetesan tetesan embun difajar menunggu,
katakanlah….
aku masih mendengarmu,
katakan pula aku disini menatapmu
ulurkan jemarimu, mari melangkah kedepan……
17 Maret 2008
Oleh : Abdul Haris Awie
Dibacakan oleh Walikota Makassar (Ir H. Ilham Srief Sirajuddin, MM)
Pada HUT PPNI Kota Makassar 17 Maret 2008
sayup kudengar nuranimu,
menyusup direlung-relung rasamu,
namun aku tak jauh dari tatapan matamu,
aku disini, dengan segala kekokohan rasa ingin menyelam pun dalam rasamu.
usah terpaku digelombang-gelombang samudera yang berkibar,
kita adalah petarung ditengah badai yang siap menggulung diam,
kita adalah akar yang mencakar bumi dengan kekuatannya,
lalu kenapa kita mesti berhenti,
kita bermimpi berlabuh disyahbandar cita,
aku adalah fisik dinuranimu wahai perawat……
aku adalah rembulan untuk malam yang sepi,
aku adalah angin berhembus diterik matahari menyengat,
usah berhenti di sini,
usah diam,
kabarkan padaku semangat yang berkobar dalam nuranimu,
beritakan padaku tetesan tetesan embun difajar menunggu,
katakanlah….
aku masih mendengarmu,
katakan pula aku disini menatapmu
ulurkan jemarimu, mari melangkah kedepan……
17 Maret 2008
Pelaut Tangguh
Pelaut Tangguh
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
ombak telah menggulung,
syahbandar bergetar,
segan menghampiri pelaut mencari nafkah,
menyabung nyawa untuk nafas-nafas kelaparan,
pantai telah terkoyak,
di lumatan ombak menghempas pasir dan karang,
tunggulah ombak reda,
atau selamat datang pelaut ulung,
melipat-lipat ombak menjadi selimut tidur,
melumat habis ketakutan yang merinding,
matahari mengintip di awan putih,
menyengat di keringat menahan layar yang terkoyak,
ombak terus menggulung,
di tengah samudera tak tampak pantai tempat menyambung nyawa,
matahari tetaplah matahari,
angin tak bersahabat menyeret perahu,
entah terdampar di mana,
hanya hati yang terus berjalan.
sang pelaut ulung tersenyum pada matahari,
sang pelaut tangguh sesekali berjabat tangan dengan ombak,
tak akan ada nada henti,
meski tak pasti, kapan ombak berhenti.
di persimpangan jalan aku terdiam,
pelaut tangguh itu adalah kamu, wahai perawat yang menunggu pantai di jemari para penguasa. entah…..
Di batas Kota Makassar, Awal Maret 2008
Oleh : Ns Abdul Haris Awie, S.Kep
ombak telah menggulung,
syahbandar bergetar,
segan menghampiri pelaut mencari nafkah,
menyabung nyawa untuk nafas-nafas kelaparan,
pantai telah terkoyak,
di lumatan ombak menghempas pasir dan karang,
tunggulah ombak reda,
atau selamat datang pelaut ulung,
melipat-lipat ombak menjadi selimut tidur,
melumat habis ketakutan yang merinding,
matahari mengintip di awan putih,
menyengat di keringat menahan layar yang terkoyak,
ombak terus menggulung,
di tengah samudera tak tampak pantai tempat menyambung nyawa,
matahari tetaplah matahari,
angin tak bersahabat menyeret perahu,
entah terdampar di mana,
hanya hati yang terus berjalan.
sang pelaut ulung tersenyum pada matahari,
sang pelaut tangguh sesekali berjabat tangan dengan ombak,
tak akan ada nada henti,
meski tak pasti, kapan ombak berhenti.
di persimpangan jalan aku terdiam,
pelaut tangguh itu adalah kamu, wahai perawat yang menunggu pantai di jemari para penguasa. entah…..
Di batas Kota Makassar, Awal Maret 2008
PADAMU AKU RINDU
PADAMU AKU RINDU
Cipt. Abdul Haris Awie
Dibacakan Oleh H. Alimuddin (AGT DPRD SULSEL)
Pada HUT PPNI
Serangkai orang-orang telah bersandar,
Menjulur dalam antrian panjang kata,
Murusuk dalam titipan zaman,
Aku tidak tahu apa yang kamu bingkai.
Aku menatapmu lewat potret yang kamu kirim padaku.
Pada dinding-dinding yang kamu sandari,
Pada ranting-ranting tempatmu bertengger, aku tahu itu.
Aku juga tahu betapa kamu telah lama berjalan,
Menepi berteduh diperjalanan panjang,
Aku lihat itu.
Kini aku hadir ditatapan matamu,
Aku juga terlahir dimatamu,
Ijinkan aku rindu padamu,
Izinkan aku melihatmu sekaliii….saja,
Selanjutnya aku akan bersuara untukmu,
Meneruskan suara paraumu yang belum kesampaian,
Membuktikan tekad perjuangan yang dikau kibarkan,
Jua menuju permadani yang kamu damba…
Aku rindu padamu……
Aku Rindu Padamu para perawat yang duduk bersimpuh disuara nurani.
Manunggal 17 Maret 2008
Cipt. Abdul Haris Awie
Dibacakan Oleh H. Alimuddin (AGT DPRD SULSEL)
Pada HUT PPNI
Serangkai orang-orang telah bersandar,
Menjulur dalam antrian panjang kata,
Murusuk dalam titipan zaman,
Aku tidak tahu apa yang kamu bingkai.
Aku menatapmu lewat potret yang kamu kirim padaku.
Pada dinding-dinding yang kamu sandari,
Pada ranting-ranting tempatmu bertengger, aku tahu itu.
Aku juga tahu betapa kamu telah lama berjalan,
Menepi berteduh diperjalanan panjang,
Aku lihat itu.
Kini aku hadir ditatapan matamu,
Aku juga terlahir dimatamu,
Ijinkan aku rindu padamu,
Izinkan aku melihatmu sekaliii….saja,
Selanjutnya aku akan bersuara untukmu,
Meneruskan suara paraumu yang belum kesampaian,
Membuktikan tekad perjuangan yang dikau kibarkan,
Jua menuju permadani yang kamu damba…
Aku rindu padamu……
Aku Rindu Padamu para perawat yang duduk bersimpuh disuara nurani.
Manunggal 17 Maret 2008
JANGAN SULAP PROFESI INI
JANGAN SULAP PROFESI INI
Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Seragam apapun yang saudara-saudara pakai,
Warna jas alamamater apapun yang melekat dalam diri saudara,
Pada dasarnya kita adalah satu,
Pada hakekatnya pula kita satu nasib,
Entahlah kalau kita adalah korban-korban zaman,
Apapun nama kampus saudara,
Jika telah mendapat izin dari pemerintah,
Maka diatas kertas putih kita bersaudara,
Jika saudara menancapkan badik dalam dada saya,
Maka bukan darahku yang mengalir,
Tapi darah seorang perawat, sama seperti tuan yang juga perawat
Jika saya menancapkan badik Makassar dalam dada saudara,
Darah yang mengucur dari dada tuan bukan hanya darah tuan,
Tapi juga darahku,
Darah seorang perawat.
……………………………………………..
Para perawat masih menjerit,
Anggota DPR masih sibuk mengumpulkan dana Untuk kampanye 2009
Para perawat masih belum tersentuh diujung pena tak bijak
Para elite politik sibuk berdebat tentang kenaikan BBM dan peristiwa berdarah monas,
Entah kapan mereka bersuara untuk perawat,
Entahlah…. Dengarkan janji2nya dipentas 2009
Hampir diseluruh jengkal tanah pertiwi Indonesia,
Tak 1 orangpun legislator yang mempertaruhkan pangkat dan tahtanya demi perawat.
Belum lagi……
Para elite bisnis di republik ini sibuk membuka sekolah baru,
Bertarung dengan slogan-slogan “kampus buatanku yang terbaik”
Para elite senior keperawatan sibuk berburu aktualisasi diri,
Dibungkus dengan pengakuan,
Pada bayang-bayang semu status sosial yang kerdil diketerasingan,
Diujungnya adalah kayu rapuh disantapan rayap meratap.
Jangan sulap profesi ini
Apalagi kalau bukan atas nama materil,
Kata profesional adalah lagu lama yang didendang orde baru
Kata menghasilkan perawat profesional adalah dongeng-dongeng
Kata tempat kuliah refresentatif adalah bumbu-bumbu,
Belum lagi jika itu pembohongan publik.
Jangan sulap profesi ini
Gelombang perubahan tak menggetarkan nurani,
Segala suara peluh tetaplah deret tetesan airmata anak bangsa,
Segala pemasungan logika pelaku bisnis kampus2 keperawatan,
Adalah apologi dengan retorika berbau pertarungan, menjadi yang terdahsyat digaris yang tak dipertandingkan.
Jangan sulap profesi ini
Jika banyak kampus keperawatan,
Pelakuknya jua banyak orang keperawatan yang kehausan,
Jika banyak perawat yang menganggur,
Pelakunya juga orang keperawatan yang jadi pahlawan,
Jika banyak alumni keperawatan yang tak terserap pada masa nanti,
Yang merusak juga adalah orang-orang keperawatan.
Perawat makan perawat……
Jangan sulap profesi ini
Memperbaiki nasib perawat, tak harus buat sekolah
Memperbaiki mutu pekerja putih-putih
Jua tak mesti kita berneko neko,
Merubah perwajahan perawat ditanah air,
Mestinya pengambil kebijakan legalitas perizinan kampus keperawatan
Tegas digaris yang berpijak pada kebijakan,
Jangan sulap profesi ini
Benar bahwa semua warga negara punya hak yang sama mencerdaskan anak bangsa,
Tapi pekerja putih-putih adalah profesi,
Membuat kampus adalah sistematika,
Bukan seperti membuat toko,
SDM nya mesti handal,
Fasilitas adalah wajib,
Skill science tak dapat dihindari.
Jangan sulap profesi ini.
Hidup adalah pertarungan logika dibingkai napas,
Lawan, lawan dan lawan,
Jika logika terbelenggu,
Apa arti hidup jika logika telah mati.
Pada dasarnya kita satu nasib,
Kalaupun kita berbeda,
Itu karena ada yang berbisinis sekolah keperawatan dan ada yang biasa biasa saja
Kalimata, 8 Juni 2008
Puisi ini dibacakan pada Seminar Nasional Keperawatan yang dilaksanakan di LAN (penyelenggara Seminar DEMA PSIK FK UNHAS)
Tema : Menguak Legalitas Pendirian Kampus Keperaatan, Kupas Tuntas Profesiku
Komplain terhadap puisi ini adalah wajib jika anda tersinggung.
Email : Awie_ners@yahoo.com
Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep
Seragam apapun yang saudara-saudara pakai,
Warna jas alamamater apapun yang melekat dalam diri saudara,
Pada dasarnya kita adalah satu,
Pada hakekatnya pula kita satu nasib,
Entahlah kalau kita adalah korban-korban zaman,
Apapun nama kampus saudara,
Jika telah mendapat izin dari pemerintah,
Maka diatas kertas putih kita bersaudara,
Jika saudara menancapkan badik dalam dada saya,
Maka bukan darahku yang mengalir,
Tapi darah seorang perawat, sama seperti tuan yang juga perawat
Jika saya menancapkan badik Makassar dalam dada saudara,
Darah yang mengucur dari dada tuan bukan hanya darah tuan,
Tapi juga darahku,
Darah seorang perawat.
……………………………………………..
Para perawat masih menjerit,
Anggota DPR masih sibuk mengumpulkan dana Untuk kampanye 2009
Para perawat masih belum tersentuh diujung pena tak bijak
Para elite politik sibuk berdebat tentang kenaikan BBM dan peristiwa berdarah monas,
Entah kapan mereka bersuara untuk perawat,
Entahlah…. Dengarkan janji2nya dipentas 2009
Hampir diseluruh jengkal tanah pertiwi Indonesia,
Tak 1 orangpun legislator yang mempertaruhkan pangkat dan tahtanya demi perawat.
Belum lagi……
Para elite bisnis di republik ini sibuk membuka sekolah baru,
Bertarung dengan slogan-slogan “kampus buatanku yang terbaik”
Para elite senior keperawatan sibuk berburu aktualisasi diri,
Dibungkus dengan pengakuan,
Pada bayang-bayang semu status sosial yang kerdil diketerasingan,
Diujungnya adalah kayu rapuh disantapan rayap meratap.
Jangan sulap profesi ini
Apalagi kalau bukan atas nama materil,
Kata profesional adalah lagu lama yang didendang orde baru
Kata menghasilkan perawat profesional adalah dongeng-dongeng
Kata tempat kuliah refresentatif adalah bumbu-bumbu,
Belum lagi jika itu pembohongan publik.
Jangan sulap profesi ini
Gelombang perubahan tak menggetarkan nurani,
Segala suara peluh tetaplah deret tetesan airmata anak bangsa,
Segala pemasungan logika pelaku bisnis kampus2 keperawatan,
Adalah apologi dengan retorika berbau pertarungan, menjadi yang terdahsyat digaris yang tak dipertandingkan.
Jangan sulap profesi ini
Jika banyak kampus keperawatan,
Pelakuknya jua banyak orang keperawatan yang kehausan,
Jika banyak perawat yang menganggur,
Pelakunya juga orang keperawatan yang jadi pahlawan,
Jika banyak alumni keperawatan yang tak terserap pada masa nanti,
Yang merusak juga adalah orang-orang keperawatan.
Perawat makan perawat……
Jangan sulap profesi ini
Memperbaiki nasib perawat, tak harus buat sekolah
Memperbaiki mutu pekerja putih-putih
Jua tak mesti kita berneko neko,
Merubah perwajahan perawat ditanah air,
Mestinya pengambil kebijakan legalitas perizinan kampus keperawatan
Tegas digaris yang berpijak pada kebijakan,
Jangan sulap profesi ini
Benar bahwa semua warga negara punya hak yang sama mencerdaskan anak bangsa,
Tapi pekerja putih-putih adalah profesi,
Membuat kampus adalah sistematika,
Bukan seperti membuat toko,
SDM nya mesti handal,
Fasilitas adalah wajib,
Skill science tak dapat dihindari.
Jangan sulap profesi ini.
Hidup adalah pertarungan logika dibingkai napas,
Lawan, lawan dan lawan,
Jika logika terbelenggu,
Apa arti hidup jika logika telah mati.
Pada dasarnya kita satu nasib,
Kalaupun kita berbeda,
Itu karena ada yang berbisinis sekolah keperawatan dan ada yang biasa biasa saja
Kalimata, 8 Juni 2008
Puisi ini dibacakan pada Seminar Nasional Keperawatan yang dilaksanakan di LAN (penyelenggara Seminar DEMA PSIK FK UNHAS)
Tema : Menguak Legalitas Pendirian Kampus Keperaatan, Kupas Tuntas Profesiku
Komplain terhadap puisi ini adalah wajib jika anda tersinggung.
Email : Awie_ners@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)
ANDA BISA BERGABUNG DISINI
Anda punyi karya sastra (puisi)? jika anda ingin jadi penulis, kirim email anda ke alamat email admint awie_ners@yahoo.com Anda Bebas "Menulis"