Awie

Rabu, 12 November 2008

This is My Say

"Tulisan mahasiswa yang tidak mau sebut nama"


Saya terkadang bingung,
Kenapa sikap orang-orang bebeda di dunia maya dan di dunia nyata,
Saya seperti hidup didunia virtual,
Yang selalu mendongeng tentang hal-hal fiksi,
Saat kembali kedunia nyata,
Saya pun kembali tersesat.


Ditulis di Bantaeng, 4 oktober 2008
Untuk yang bersembunyi dari dirinya.

KEHIDUPAN


"Puisi ini disumbangkan oleh mahasiswa yang tidak mau disebut namanya"


Menangis karena cinta lebih utama,
daripada kebahagiaan yang tidak memiliki cinta,
Jika hidup terasa berat bagimu,
biarlah jiwa yang merana, menganggap ratapan sebagai kebahagiaan,
dan biarlah yang tertindas, merasakan keindahan dalam doa’,
Mari bernyanyi dan bermimpi dalam suka cita,
Biar masing-masing merenungi takdir.
Karena hidup seperti irama senar,
Punya jalan masing-masing,
Meski berada dalam sebuah nyanyian kehidupan yang sama.



Ditulis di Makassar, 26 Oktober 2008
Untuk orang yang tidak mensyukuri hidup.

Senin, 03 November 2008

BAHWA TANAH MAKASSAR

BAHWA TANAH MAKASSAR

(Oleh Ns. Abdul Haris, S.Kep)

Buat Ilham Arief Sirajuddin dan Soepomo Guntur, Dibacakan saat mendaftar di KPU Untuk 01/02 Makassar

Apapun suku tuan, apapun agamu tuan, apapun bahasa yang tuan pakai

Kita adalah satu rasa,

Hari ini kita yang berkumpul disini, adalah kumpulan para petarung tangguh dan petarung sejati, Petarung yang takkan pernah berhenti ditengah jalannya pertarungan, petarung yang memenangkan keteguhan dan prinsip.

Tuan-tuan para petarung tangguh,

Ketika tuan mencabut badik dan menacapkan kedalam dada saya,

Maka darah yang keluar dari tubuh saya adalah darah orang Bugis Makassar,

Ketika aku mencabut badik Makassar dan menancapkan kedalam dada tuan,

Maka darah yang mengalir bukan hanya darah tuan, tetapi darah orang bugis Makassar, Sama sepertiku yang juga orang Bugis Makassar.

Siapapun tuan yang datang hari ini?

Hari ini, tuan-tuan telah menjadi petarung tangguh,

Hari ini tuan-tuan adalah perwakilan dan pemaknaan akan keterwakilan kata….. rakyat Makassar,

Tahukah tuan, dimana kaki tuan berpijak,

Tataplah tuan, bahwa telapak kaki tuan bertumpuh pada satu tanah,

Tanah Makassar….

Tanah Makassar adalah tanah tumpuan masyarakat yang bukan saja dicintai Masyarakat disepanjang Sulawesi, Namun Makassar adalah tanah kebanggan seluruh Rakyat di seluas hamparan laut dan daratan beserta rakyat di Kawasan Timur Indonesia.

Bahwa tanah Makassar adalah tanah idola,

Maka Pemimpinnya juga harus idola,

Bahwa Tanah Makassar adalah tanah panutan di KTI,

Maka pemimpin ditanah Makassar adalah mereka yang telah lama menyelam kedalam relung rasa dan jerit Rakyat kota

Maka pemimpin yang memimpin tanah Makassar adalah berkearifan dikesejatian prinsip “Siri’ na Pacce”

Maka Pemimpin di Tanah Makassar haruslah yang teruji dan berpengalaman.

Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat dengan kearifan,

Maka Pemimpin rakyat Makassar adalah yang teruji kearifannya,

Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat mayoritas kesederhanaan,

Maka pemimpin rakyat Makassar adalah teruji kesederhanaannya.

Bahwa penduduk Makassar adalah berjuta kepentingan,

Maka pemimpin penduduk Makassar adalah yang bijak pada perpedaan kepentingan,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Kuserahkan Makassar pada otak dan hatimu,

Kuserahkan Makassar pada setiap detak jantungmu,

Kuserahkan Makassar pada nurani dak ketulusanmu,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Aku mengenalmu dikeindahan anjungan pantai losari hasil logikamu,

Aku mengenalmu dilingkar kota ditengah rakyat kota mengais hidup,

Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,

Peluh dikau berjalan tertatih-tatih,

Memikul beban dan keluh anak negeri,

Masih pula ada yang menghujatmu,

Selamat Datang ilham Arief Sirajuddin,

Pada keringatmu yang bercucuran,

Pada airmatamu yang membasahi sejadah panjang,

Diperenungan tengah malammu bersimpuh,

Masih pula ada yang menghujatmu.

Aku tau kau hadir disetiap sisiran dan detak jantung kota,

Bersua dihelai kebijakan menuju permadani,

Karakter dan prinsip dalam santun,

Mengalir deras dalam darahmu,

Mengetuk dalam detak jantungmu.

NAKKE ACO’, KATTE?

Makassar, 11 Juli 2008

http://lensakomunika.blogspot.com

kemerdekaan itu bernama sanubari

kemerdekaan itu bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"



bila kemerdekaan itu berwarna merah
putihnya terpahat peluh dan darah
mengintip tiap lorong sejarah
mengalir bagai gemericik air
hingga ke lubuk terpencil
ia bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan itu terus merekah
rebahkan tanah - tanah merah
bertumbuhanlah
pepohonan kaku bernama
bangunan kokoh berkaca
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan berganti wajah
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu
karena sanubari
tak lagi ikut memekik

pekikkanlah "MERDEKA !"
yang berwarna merah
tapi pekiknya
tak mandi peluh dan darah

--------------------------------------------------------------------------------








jangan lantang bicara disini
mengungkap niat cukup di hati
kalau tidak, lidahmu terkerat nanti
gaji tersunat, anak binimu
dalam kepusingan sangat
ssst....., ssst.....!
jangan keras - keras !

ssst.....!
jangan bersuara
dengarkan katak - katak itu bicara
jangkrik menderik gelitik telinga
apa kata mereka, coba simak
rekam di benak, lantas redam
ssst.....
jangan keras - keras !

desir angin kalahkan malam
jenuh nantikan hujan tak kunjung datang

ELEGI

Oleh :
Asrul Sani


Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderi sebutir demi sebutir

Apa juga masih akan tiba,
Mesra yang kita bawa, tiadalah
kita biarkan hilang karena hisapan pasir

Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan

Jika suaramu hilang dan engkau mati.
Maka kami akan berduka, dan kanan
menghormat bersama kekasih kami.

Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian - tiada mungkin,
Dan sinar mata yang tiada terlupakan.

Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja,
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
mengeringkan kembang kerenyam*
Pepohonan sekali lai akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.
Laut India akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian

Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru.
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.

Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta.....



*Germanium

Mimbar Indonesia
Th III, No. 21
21 Mei 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Aku niscaya,

Aku niscaya,
pijar demokrasi suatu saat akan memancar di penjuru negeri.

aku bersaksi,
suatu saat pedang kebenaran
akan menaklukkan kekuasaan sang penindas.

untuk kesaksianku ini,
biarlah aku menahan lapar dan kehausan,
biarlah sukmaku diliputi amarah,
biarlah senjata resim kezaliman menikam dadaku,
biarlah juga penjara menjadi rumahku,
aku tak peduli.

aku amat niscaya,
di belakangku anak cucu generasi negeri ini,
akan terus melanjutkan pergerakan.

maklumat pergerakan,
untuk tegaknya kebenaran dan keadilan,
adalah aliran darah,
yang tak akan berhenti.

SAMARINDA, JANUARI 1995
(adaptasi ilham dari demo mahasiswa di tiananmen tahun 1986)





--------------------------------------------------------------------------------
Pada negeri ini kami lahir,
sebagai bangsa yang merdeka,
sosok raga yang berdaulat,
dayak kami menyebutnya,
borneo benua leluhur
saksi sejarah belantara perkasa

realita sejarah terus berputar,
kehidupan manusia niscaya bergulir,
sejak ape bungan tana sosok perempuan pertama,
hingga megawati soekarnoputri
serta sosok lain yang belum terlahir,
membuahkan ketidakpastian.
adalah suatu keniscayaan,
sesuatu di dunia ini pasti berubah,
yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

pembangunan telah melahirkan penghancuran.
modernisasi telah melahirkan marginalisasi.
ilmu pengetahuan tak lagi memiliki nurani.
teknologi tak lagi memiliki budi pekerti.

rakyat tak serta merta menentukan gelombang perubahan.
kekuatan yang menindas telah memainkan peran.
betapa dasyat maknanya,
manusia telah kehilangan kemanusiaannya.
hanya ada dua pilihan :
lawan atau kawan.

kesaksian abad klimaks,
mencari kepastian,
di negeri merdeka, benarkah ada kemerdekaan ?
di negeri merdeka, benarkah ada keadilan ?

PONTIANAK, 15 MEI 1995



--------------------------------------------------------------------------------

ROEDY HARJO WIDJONO AMZ
"LELAKI PENUNGGANG GELOMBANG"
( PUSTAKA SASTRA - JULI 1997

LAGU DARI PADA PASUKAN-TERAKHIR

LAGU DARI PADA PASUKAN-TERAKHIR

Oleh :
Asrul Sani

Pada tapal terakhir sampai ke Jogja
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
kata-kata berantukan pada arti sendiri.
Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati atau tiada mati-matinya
O Jendral, bapa, bapa,
tiadakan engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya kanan tetap tinggal pada tidak-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditup angin, karena
ia berdiam di pasir kering
O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia.
O Jendral, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini

Ah mengapa pada hari-hari sekarang, matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi.

Jendral, mari Jendral
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat-keyakinan,
engkau bersama kami, engkau bersama kami,
Mari kita tinggalkan ibu kita
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari jendral mari
sekali in derajat orang pencari dalam bahaya,
mari jendral mari jendral mari, mari.......


Indonesia,
No. 2
Maret 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Minggu, 02 November 2008

Pusi dan doa emha

Pusi dan doa emha
dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru

ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia

hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu
menjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan
bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya,
maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku
jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu
adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku,
demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu

demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadakudalam alam gelap..
senada semilir berayun
saat tubuhku terasa getir tanpamu
kucari ke dasar hatiku jawaban tentangmu berlalu
kemana ku berkata?
harus mencari ke seluruh isi bumi
kepergianmu yang misteri bagiku

Kumenatap kekosongan
sehamparan tumbuhan tak mammpu mendengarkan
desah yang kian lama menjadi kebingungan
iri aku melihat mereka bercanda
tertawa, berdua bersama
kejar mengejar kesana kemari
melepas lelah di jendela ku
langkahku memberontak
ajaib..
cemara ini mempersilakan aku bersandar
seakan mengerti galau hatiku
kulelap dalam kerindangan
samar samar malaikat menghampiri

tangan terulurkan menggenggamku erat
kuterbang bersama malaikat
dalam kejauhan
kulihat diriku terlelap tak berdaya
tak ingin kupungkiri kata hatiku..
aku jatuh cinta padamu...

namun semua haruslah berakhir higga di sini
walau tersakiti dalam...
biarlah..!

walau ku tahu hanya kau yang kuinginkan...
hanya kau yang kupinta.
menjadi kekasih abadi..

terlalu dirimu..
yang tak mampu membaca isi hatiku...
begitu dalam...
begitu deras ku terluka
terkulai lama dan takkan hilang..
tak mampu ku terpejam..
bayangmu selalu di benakku
mengambil semua mimpiku

malam...
bertaburan bintang menghiburku !

di saat ku terbaring..
terkapar saat melintas bayangmu..
sempatkanku tuk berhenti berpikir sejenak tentangmu

namun itu semua tak mungkin..
semua tlah berlalu
ku tak mungkin dapat melupakanmu
di dalam kerinduan hati
bergejolak kawan...
lupakan semua....
kini aku hanya memandang masa lalu kelam tiada pandang
ku terbiasa larut dalam isakan ini
dan tak ada kawan setia menjadi penadah air mataku
seandainya pandangku tak berubah arah
mungkin aku takkkan jadi se angkuh ini
menyombongkankesendirianku ini pada dunia
bagaimana angin menyambutku saat kau tak di sini ?
bagaimana malam kan datang saat hadirmu tak lagi di siisiku?
saat kurindu hadirmu malam ini...
seolah setan menggodaku tuk meninggalkan dunia..
ku ingin melihat sekilas wajahmu sekali lagi..
di saat wajah itu tersnyum untukku.
saat wajah itu ingin mendapat kasih sayangku..
namun aku terlalu bodoh membiarkanmu pergi!
AKU TERLALU TOLOL
TAK MAMPU MENGETAHHUI semua itu
bahwa dia juga mencitaiku......
SURAT UNTUK IBU PERTIWI

STOP PRESS, 1998
"untuk hidup mengapa begitu rumitnya?"
televisi menyala:
rupiah terpuruk jatuh
harga membumbung tinggi
banyak orang hilang tak tentu rimbanya
12 Mei 1998
mahasiswa mati tertembak siapa?
13-14 Mei 1998
kota-kota terbakar kerusuhan
perkosaan, teror!

21 Mei 1998: "sang raja lengser keprabon"
graffiti menyala di tembok-tembok: "pendukung reformasi"
eksodus: "singapura-hongkong-china-taiwan!"
munaslub: "turunkan para pengkhianat!"
ninja beraksi, orang berlari, maubere: "referendum!"
"mengapa hidup begitu rumitnya?"
seorang ayah bunuh diri bersama empat anaknya
1998, belum usai...
(hari ini ada berita apa lagi?)
Malang, 1998
DERING TELPON DARI MANA ASALNYA
dering telpon dari mana asalnya, berdering-dering saja, kabarkan apa,
apakah berita yang sama seperti kemarin, tentang sebuah negara berkembang, negara dunia ketiga?
hai, kau jangan memaki di situ, nanti telingaku pekak karena umpatanmu
kau kirim kabar apalagi kali ini? aduh, jangan lagi kau cerita tentang korupsi,
kolusi, tirani atau apa saja berita basi, aku tak mau dengar lagi...
kau mau demonstrasi?
silakan kalau berani!
cilegon 1996, malang 1997

SURAT UNTUK IBU PERTIWI (1)
ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun
dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan.
bikin daku hendak jadi ksatria.
jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun
nyiur di depan rumah kita itu.
ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan
lagu: kami jadi pandumu...
ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak
dulu.
ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang
padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.
tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa
ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak
menggubris petuahmu.
ujarmu:"hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu.
berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain..."
ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain
mungkin masih mengigatnya juga, ibu.
di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi
tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat
pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang
bercakapan.
di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan
benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata.
kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk
pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu.
begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup...
dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan
apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan
menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari
tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat
anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata...
ya, ibu, aku rasakan itu
kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu
yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang
begitu menakutkan!
dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu...
malang, 21 maret 1995

SURAT UNTUK IBU PERTIWI (2)
jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.
jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?
jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?
kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan
begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering
mengganggu kami.
ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?
dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu
mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih
banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.
jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu...
baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?
malang, 21 maret 1995

DIALOG KEBINGUNGAN
banten, 8 Juli 2045
(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa
mimpi. semcam de javu....................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):
malang, 30 Oktober 1995
kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman,
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.
"kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih
perjuangan, harus kau nikmati, anakku," katamu
ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi,
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)
"apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,
tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin ta
engkau menanam pohon tapi tak mengajak tanah
engkau menanam pohon tapi tak mengajak air
engkau menanam pohon tapi tak mengajak musim
engkau menanam pohon tapi tak mengajak pohon
engkau hanya menanam dirimu sendiri
KOK SEJARAH BERULANG

Matahari tak berubah
kemarin dan hari ini
sejarah ikut berulang
masih itu-itu juga
Semula ada angin segar
melayangkan mimpi indah
tapi udara semakin keruh
jalan-jalan pun berkabut
Kau masih di bawah kolong
berteduh bersama anak jalanan
seraya mendulang harapan
sekitar debu beterbangan
Siapa peduli pada nasibmu
ketika orang gencar berburu
tak membiarkan ada tersisa
tersisih tetap yang lemah
Masih begitu-begitu juga
Siapa membuat sejarah berulang

1998




ORANG-ORANG TIKUNGAN

Orang-orang bergegas ke tikungan
kereta melengking lewat
orang-orang itu pun lenyap
Di tengah gelanggang upacara
orang-orang itu tampil di panggung
mereka sangat mahir menyihir kata reformasi
Orang-orang tikungan
jitu membaca cuaca
tahu kapan mendung berlalu
seraya menunggu kereta
Orang-orang tikungan
muncul dari segala arah

1998



HARI-HARI AMARAH

Hari-hari penuh teriakan
hari-hari penuh makian
hari-hari penuh kutukan
hari-hari penuh perlawanan
hari-hari berdarah
hari-hari amarah
hari-hari airmata
hari-hari putus asa
hari-hari bimbang
hari-hari tak menentu
hari-hari menyakitkan
hari-hari harapan
hari-hari kemenangan
Semua itu terjadi karena ribuan hari terkerangkeng
ribuan hari penuh ancaman
ribuan hari penuh tekanan
ribuan hari kita diam dan dibungkam
ribuan hari kita tak tahu mau berbuat apa
ribuan hari sebuah rezim mempertahankan kekuasaannya
dengan segala cara dan rekayasa
ribuan hari kita diadu domba
ribuan hari mereka membodohi kita
ribuan hari mereka menjarah daging, darah, pikiran,
perasaan, harapan dan mimpi-mimpi kita
mereka mengepung kita
mereka memasang telinga dan mata di dinding rumah kita
Penjarah-penjarah berdasi
penjarah-penjarah bermobil mewah
melintas di jalan raya dengan pongah,
dengan senyum palsu di ujung senyum
ia tembakkan senjata
ia lakukan penculikan
ia lakukan penangkapan
ia sekap mulut, hati nurani, dan hari depan bangsa
Ketika penjarah jalanan menyerbu toko-toko
siapa guru dan panutan mereka kalian semua!
kalian yang telah menjarah negeri ini sejak sepuluh,
dua puluh, atau tiga puluh tahun lalu
Kini negeri ini engkau sengsarakan
semua telah habis, habis,
habis...
bahkan juga airmata kami begitu pedih, begitu memilukan
negeri ini engkau biarkan sekarat dan luka parah
Sekarang engkau jangan lari
bersujudlah di depan airmata rakyat
jalani hukuman di dalam penjara derita rakyat
Kini engkau terpuruk oleh dosa-dosamu
engkau terkapar oleh suara hatimu sendiri
engkau sangat terlambat untuk jatuh terhormat
engkau biarkan rasa sakit berkepanjangan
negeri dalam duka cita yang memilukan
Sejarah meningalkanmu sendirian!

1998

SISA KERUSUHAN
Oleh :
Nina Minareli




Kubaca tarian langit dalam tidurmu
Di antara gerakan awan dan sisa cahaya
Yang mengukir tubuh sebuah kota
Di mana musik-musik menjalin waktu
Mengalun bersama deru angin dan kalbu
Kerusuhan di nafasmu menerbangkan asap kekalahan
Bagi orang-orang yang patuh pada ribuan matahari
Sedang kita yang bermimpi hanya menggarisi kata-kata
Di antara lidah yang memanjang dalam keredupan
Dalam pepatah-pepatah iklan dan boneka-boneka
Kaset-kaset bajakan serta model-model kepalsuan
Hingga kita pun tumbuh sebagai pembenci rasa lapar
Dan segala hal membusuk di bibirmu yang nakal
Sungguh sulit kita mencari jawaban
Mencoba berlari ke diskotik dan pangkalan narkotik
Mencari teman tertawa sebelum dirantai penguasa
Sebelum matamu terbuka memandang lautan peristiwa
Di pinggir jalan di mana tempat lengan dan kakiku
Kau tinggalkan

1998


BAGI PARA DEMONSTRAN

kemaren masih kulihat kau
menciumi bunga-bunga yang mati*),
luka bangsa yang kekeringan air mata karena selalu saja janji,
bertumpah ruah menggerogoti ruang-ruang kosong,
sedangkan betapa kita damba lagu-lagu
kenyataan dari segala omong kosong itu
bila impian hanya membentur dinding-dinding ketidakpastian
bila diskusi hanya sekadar membungkam segala aspirasi
dan keterbukaan tak lebih dari kedok itu sendiri
maka dengan tulus segeralah berangkat
sebab bagi kebenaran tak ada kata-kata untuk diam
tiga, lima, sepuluh mungkin seratus jantung lagi yang akan terkapar,
kenang dan kuburlah risau mereka
taburkan kembang-kembang kegembiraan
bagi hati yang sekarat hingga sampai saat menangis,
menangis kita sepanjang jalan
berkabung terhadap hati nurani yang terinjak dan dilecehkan
mendukai hilangnya sesuatu yang mestinya milik kita
atau menjeritkan ratap sebagai ungkapan atas segala korban
lalu marilah kita pestai semua kekalahan ini
dengan peluru-peluru karet, gas air mata, pentungan listrik
bahkan suara letusan dan darah,
dan darah kita kalungkan semua pada saudara kita
yang luka kemaren
masih kulihat kau menciumi bunga-bunga yang mati,
mungkin gugur atas nama cinta hari ini
dengan puisiku
marilah berangkat ke jalan,
ke ruang-ruang terbukanya pikiran
sebab impian tak ada lagi di kantor-kantor
di gedung-gedung atau di meja-meja perundingan
dengan puisiku
tak akan ada pembakaran dengan puisiku
tak akan ada kekerasan dengan puisiku
yang ada hanyalah perjuangan
perjuangan!

payakumbuh, Mei 1998

SAJAK PERLAWANAN
oleh :
Nina Minareli



Kali ini ingin kutuliskan sebuah sajak perlawanan
Dengan secangkir kopi pahit yang kau sediakan
Di meja makan
Meskipun roda musim tak memuat lagi angin rindu
Atau kicau burung di tengah kota itu
Tapi langit dan lautan masih tetap akan menyerap kata-kata
Di mana sebuah jembatan, pohon-pohon dan pebukitan
Akan menerjemahkan segalanya
Biarkan saja kita di sini meniti satu per satu malam
Dengan kegelisahannya yang panjang
Walau nafas-nafas di sudut kota mulai berbau bara
Walau harga luka melayang-layang di atas telunjuk dunia
Biarkan saja sebab hujan akan menjabarkan sajak-sajakmu
Sebagai kekuatan di luar badai
Dan perlawanan di dalam penjara angin
Yang bergaris pada bilik nurani kita sendiri
Mulailah kawan
Lawanlah pelan-pelan!

1998



Sajak-sajak Peduli Bangsa
Republika Online edisi : 13 September 1998


KOTA BIRU
Oleh :
Nina Minareli


Lewat jalur jalan di pinggir taman
Dan rel-rel yang memanjang ke tengah perkotaan
Serta suara lokomotif yang sebentar-sebentar mengerikan
Semuanya seperti menyimpan keheningan
Sepanjang ruang dan gemuruh para pejuang di jalan
Di mana mereka tengah menghamburkan darah ke arah bulan
Tapi matamu kali ini lebih terbuka dari kata-kata
Dari sebuah jembatan yang menanjak ke angkasa
Atau dari sebutir peluru yang ditembakkan ke angkasa
Hingga di situ kudapatkan engkau mematung sendirian
Di depan cermin langit yang letih
Di mana seorang penari turut menggoyangkan hari
Memeras dan memahat keringat waktu sendiri
Di sekujur tubuh negeri ini
Malam yang dingin di bibir kota ini
Di tengah padang rumput yang tinggi
Dan percikan air hujan yang mengguyurkan kegelisahan
Ada sebuah tangga yang berputar menuju kamar impian
Dengan diterangi sedikit cahaya bulan
Aku hanya mampu menahan getaran musim di nafasmu
Tapi angin seolah memaksaku untuk terus berkhayal
Seperti musim yang kehausan melumat sisa waktu
Di mana orang-orang tengah berlibur
Sebelum kekalahan benar-benar terlanjur


1998

rendra bersyair
AKU MENDENGAR SUARA
JERIT HEWAN YANG TERLUKA
ADA ORANG MEMANAH REMBULAN
ADA ANAK BURUNG TERJATUH DARI SARANGNYA
ORANG-ORANG HARUS DIBANGUNKAN
KESAKSIAN HARUS DIBERIKAN
AGAR KEHIDUPAN BISA TERJAGA



yogyakarta
1974



--------------------------------------------------------------------------------

ANDA BISA BERGABUNG DISINI

Anda punyi karya sastra (puisi)? jika anda ingin jadi penulis, kirim email anda ke alamat email admint awie_ners@yahoo.com Anda Bebas "Menulis"