Awie
Minggu, 28 Desember 2008
puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:08am
Bila angin
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya
Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya
Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya
Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya
Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya
Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya
Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata
Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".
Re: puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:15am
Rinduku terpahat dalam batu
suaraku mengalir bersama air
bertebaran menjadi bunga-bunga keabadian.
Aku patrikan diriku pada alam
cinta,tembang,lara,berlagu di pucuk cemara
angin semilir padamkan gelora.
Aku tak,kaupun tak,kita tak paham
bagaimana laut dengan cintanya
mematrikan diri pada tebing terjal.
Aku ingin belah sepi
tatkala bulan bersemi
tapi kemana kan kupautkan rindu
ketika air tak lagi bergemericik jernih.
Kepada alam jiwaku bermalam
________________________________________
tembang cinta burung yang luka
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:24am
hendak kemana burung yang luka
istirahatlah dulu saja
dalam sangkar sementara
hingga kering luka yang kau derita
hendak kemana burung yang luka
tinggal disini saja kita bisa bersama
bermain tralala
di luar tak ada lagi yang bisa kau mangsa
sawah telah di tanami gedung-gedung raksasa
hutan rimba sudah langka
di angkasa pun hanya ada mega
dan bianglala
tak usah mengembara
nanti kembali terluka!
________________________________________
pohon dan laut
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:29am
dipepohonan
burung-burung belajar berbicara
dengan lidah kecilnya,
tapi aku tak mengerti,
dilaut
ikan-ikan belajar terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
tapi aku tak mengerti.
karena aku hanyalah hutan kecil yang
tak tahu kenapa ditanam dialam untuk
dimusnahkan.
di pepohonan aku tahu,
burung-burung mencuba berbicara
dengan lidah kecilnya,
yang menyimpan beribu rahsia.
tapi akankah aku mengerti
apa yang d**eluhkannya?
di laut aku tahu
ikan-ikan terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
kian kemari tak tentu arah.
tapi akankah aku mengerti
apa yang di resahkannya?
kerana aku sendiri hanyalah
seekor katak kecil
yang tak lagi bisa berlindung
diantara akar-akar yang dulu perkasa
sekarang hilang tak berbekas.
________________________________________
Re: puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 23, 2005, 9:48am
Katanya kalian adalah tanganNya untuk kami
Nyatanya kalian hanya panjang tangan
Malang melintang di hutan kami
Menebar benci dan dengki
Katanya ajaran yang di amanatkan kepada kalian adalah cinta kasih
Nyatanya sekedar cinta pada diri yang tak terkendali
Katanya kalian pencinta alam
Nyatanya sekedar suka bercinta dengan alam
Dari kami kalian berasal
Tapi kami asing dengan kalian
Kalian toreh kulit kayu dan batu kami
"hanya tuk sekedar nama-nama kecil
Jinjinglah terompahmu
Injaklah kaki di batu-batu kecil kami yang memberi refleksi
Berwudhu'lah di air kami
Basuh mukamu sepuas syukurmu
Syukur jauh dari sekedar memuji-Nya
Syukur jauh dari sekedar menikmati
Makanlah dengan tangan telanjang di tepi kolam kami
Bersama teratai,capung,burung,katak dan burung-burung kami
Bersatulah dengan kami
Binalah tempat berpijakmu ini
Niscaya akan kami mintakan kepadaNya
Pemilik jagad ini
"tuk meneguhkan kedudukanmu dimuka bumi
Sampai suatu saat,
Kami kehilangan dari pandanganmu
Karena kami hanya segelintir ayat-Nya
Di jagad-Nya yang luas ini
aku adalah seekor burung
mungkin engkau talah lama mengenalku
kerna aku sering menggodamu pagi hari
tak peduli apakah engkau sedang bercumbu dengan mimpi
aku adalah seekor burung
mungkin engkau tahu tentang aku
yang tak pernah lelah berceloteh
yang tak pernah bosan berkencan dengan dahan-dahan dan dedaunan
aku adalah seekor burung
dulu,memang aku selalu begitu
terbang mengarak darah dan harapan
kepak sayap sarat angan-angan masa depan
sementara paruhku
tak pernah kubiarkan menyimpan keluh-kesah
tapi,O siapakah gerangan
yang diam-diam mengubur arti dulu
membungkam mulutku dan menyekat suaraku
hingga aku tak mampi lagi bersenandung
padahal dalam benakku
masih kusimpan rindu melagukan nyanyian
setelah aku kehilangan pepohonan
tempat bercanda bersama teman-teman
haruskah sekarang aku kehilangan kehidupan
ah,laras senjatamu itu
belum jera juga menguliti kebebasanku
entahlah telah berapa banyak
nyawa sesamaku yang terampas
di terjang tangan-tangan gagah
ditelan langkah-langkah pongah
sebenarnya,aku masih ingin akrab dengan matahari
mengadukan segala rupa persoalan
tapi,begitulah akhirnya
hari-hariku di sini kian tak utuh
biarlah,kukabarkan pada dunia
bahwa sekarang di sini
aku adalah seekor burung
yang menanti jatuh
mesranya sapaan angin
menjamah tubuhku yang gersang
terbangkan semua kegersangan
cakrawala tampil cemerlang
berselendang pelangi
bumbui kemegahan alam
gemuruh ombak berkejaran di pantai
perjuangan yang tiada putus
sempat bangkitkan semangatku
nyalakan nyaliku
dari tidur panjangku
hamparan hijau tergelar
berpagar sungai peluntur kelelahan
berdinding gunung perkasa
tegar menyongsong zaman
kulahap kenikmatan yang hadir
dengan segenap inderaku
keindahan alam begitu sempurna
sulit tergambarkan lewat taburan kata
istana raya penuh kedamaian
kandung selaksa kasiat
ubat penolak duka
pendobrak kepengapan
gema alunan burung bervokal
serukan tembang kedamaian
keantero jagat gemerlapan
peredam gejolak emosi
peluruh keangkuhan
sekeluarga kelinci berpesta
diatas permadani hijau
berselimut kebahgiaan
panoramanya alam kian gemilang
matapun enggan berlalu
serasa berenang di telaga kedamaian
________________________________________
ilusi dalam mimpi
Post by sanggabuana on Jul 28, 2005, 9:23am
bilamana aku dapat bermimpi berjumpa dengan ibu
akan kubawakan sebidang tanah penuh bunga
kuajak ia berjalan dalam hamparan flamboyan
lalu dari atas dahan kuperintahkan seribu burung
beryanyi tentang embun dan sinar mentari
bilamana ibu bersedih,akan kuhibur ia sambil
melihat lucunya kumbang cumbui kembang ditaman
lalu kubiarkan seribu kupu-kupu berterbangan
diatas rambutnya yang bermahkota pelangi
bilamana ibu letih,kan kukumpulkan butiran embun
dari pucuk-pucuk daun.dan kutaburkan pada tiap langkahnya
agar ibu merasa sejuk.lalu kubawa ibu menanam
masa depanku dalam warna bunga
agar ibu bangga anaknya lahir dinegeri daun
yang hijau penuh kicau
bilamana nanti ibu tertidur
kan kupagari ia dengan kemilau doa
dan kuajak burung-burung menjaganya
dari gemuruh dunia luar
bilamana ibu bertanya mengapa aku mengirim keindahan
hanya dalam mimpi,akan kukatakan pada ibu
bahwa hanya lewat mimpi anaknya bisa memberikan
kebahagiaan.kerna dinegeri yang kini hilang wangi,
telah tumbuh pohon-pohon berakar besi,kembang plastik,binatang yang di mumikanserta gemuruh pabrik yang
memproduksi polusi.biar ibu tahu
negeri yang subur telah hilang dalam peta.
PUISI PUTUS CINTA
Sayap sayap sang pengantar pesan menutupi kesadaranku
Pelukannya seperti cengkeraman malam pada bumi,
Erat dan pasti.
Wajahnya yang berduka meneguhkan hatiku
Tapi tubuh dan jiwa ini tak mampu bertahan,
hanya mampu ditentramkan dalam keheningan
Saat kegelapan sepenuhnya melindungiku,
Aku tak lagi sadarkan diri.
Cahaya mata malam dilangit membenturkan aku pada kenyataan.
Saat Terbangun dan tersadar, Aku sendirian lagi.
Saat Satu persatu kunang kunang memadamkan kedipannya
Aku mulai melangkah, Sunyi tanpamu,
namun aku tahu harus terus melangkah....
Pergi sejauh jauhnya dari mu
dari kenangan akan cinta..
aku dikhianati dan tak ingin membalasnya padamu..
di langit, gemintang bersinar menantang gerimis yang turun
dikutip http://pusaran-air.blogspot.com/2005/11/puisi-putus-cinta.html
Rabu, 12 November 2008
This is My Say
"Tulisan mahasiswa yang tidak mau sebut nama"
Saya terkadang bingung,
Kenapa sikap orang-orang bebeda di dunia maya dan di dunia nyata,
Saya seperti hidup didunia virtual,
Yang selalu mendongeng tentang hal-hal fiksi,
Saat kembali kedunia nyata,
Saya pun kembali tersesat.
Ditulis di Bantaeng, 4 oktober 2008
Untuk yang bersembunyi dari dirinya.
KEHIDUPAN
"Puisi ini disumbangkan oleh mahasiswa yang tidak mau disebut namanya"
Menangis karena cinta lebih utama,
daripada kebahagiaan yang tidak memiliki cinta,
Jika hidup terasa berat bagimu,
biarlah jiwa yang merana, menganggap ratapan sebagai kebahagiaan,
dan biarlah yang tertindas, merasakan keindahan dalam doa’,
Mari bernyanyi dan bermimpi dalam suka cita,
Biar masing-masing merenungi takdir.
Karena hidup seperti irama senar,
Punya jalan masing-masing,
Meski berada dalam sebuah nyanyian kehidupan yang sama.
Ditulis di Makassar, 26 Oktober 2008
Untuk orang yang tidak mensyukuri hidup.
Senin, 03 November 2008
BAHWA TANAH MAKASSAR
BAHWA TANAH MAKASSAR
(Oleh Ns. Abdul Haris, S.Kep)
Buat Ilham Arief Sirajuddin dan Soepomo Guntur, Dibacakan saat mendaftar di KPU Untuk 01/02 Makassar
Apapun suku tuan, apapun agamu tuan, apapun bahasa yang tuan pakai
Kita adalah satu rasa,
Hari ini kita yang berkumpul disini, adalah kumpulan para petarung tangguh dan petarung sejati, Petarung yang takkan pernah berhenti ditengah jalannya pertarungan, petarung yang memenangkan keteguhan dan prinsip.
Tuan-tuan para petarung tangguh,
Ketika tuan mencabut badik dan menacapkan kedalam dada saya,
Maka darah yang keluar dari tubuh saya adalah darah orang Bugis Makassar,
Ketika aku mencabut badik Makassar dan menancapkan kedalam dada tuan,
Maka darah yang mengalir bukan hanya darah tuan, tetapi darah orang bugis Makassar, Sama sepertiku yang juga orang Bugis Makassar.
Siapapun tuan yang datang hari ini?
Hari ini, tuan-tuan telah menjadi petarung tangguh,
Hari ini tuan-tuan adalah perwakilan dan pemaknaan akan keterwakilan kata….. rakyat Makassar,
Tahukah tuan, dimana kaki tuan berpijak,
Tataplah tuan, bahwa telapak kaki tuan bertumpuh pada satu tanah,
Tanah Makassar….
Tanah Makassar adalah tanah tumpuan masyarakat yang bukan saja dicintai Masyarakat disepanjang Sulawesi, Namun Makassar adalah tanah kebanggan seluruh Rakyat di seluas hamparan laut dan daratan beserta rakyat di Kawasan Timur Indonesia.
Bahwa tanah Makassar adalah tanah idola,
Maka Pemimpinnya juga harus idola,
Bahwa Tanah Makassar adalah tanah panutan di KTI,
Maka pemimpin ditanah Makassar adalah mereka yang telah lama menyelam kedalam relung rasa dan jerit Rakyat kota
Maka pemimpin yang memimpin tanah Makassar adalah berkearifan dikesejatian prinsip “Siri’ na Pacce”
Maka Pemimpin di Tanah Makassar haruslah yang teruji dan berpengalaman.
Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat dengan kearifan,
Maka Pemimpin rakyat Makassar adalah yang teruji kearifannya,
Bahwa rakyat Makassar adalah rakyat mayoritas kesederhanaan,
Maka pemimpin rakyat Makassar adalah teruji kesederhanaannya.
Bahwa penduduk Makassar adalah berjuta kepentingan,
Maka pemimpin penduduk Makassar adalah yang bijak pada perpedaan kepentingan,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Kuserahkan Makassar pada otak dan hatimu,
Kuserahkan Makassar pada setiap detak jantungmu,
Kuserahkan Makassar pada nurani dak ketulusanmu,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Aku mengenalmu dikeindahan anjungan pantai losari hasil logikamu,
Aku mengenalmu dilingkar kota ditengah rakyat kota mengais hidup,
Selamat Datang Ilham Arief Sirajuddin,
Peluh dikau berjalan tertatih-tatih,
Memikul beban dan keluh anak negeri,
Masih pula ada yang menghujatmu,
Selamat Datang ilham Arief Sirajuddin,
Pada keringatmu yang bercucuran,
Pada airmatamu yang membasahi sejadah panjang,
Diperenungan tengah malammu bersimpuh,
Masih pula ada yang menghujatmu.
Aku tau kau hadir disetiap sisiran dan detak jantung kota,
Bersua dihelai kebijakan menuju permadani,
Karakter dan prinsip dalam santun,
Mengalir deras dalam darahmu,
Mengetuk dalam detak jantungmu.
NAKKE ACO’, KATTE?
Makassar, 11 Juli 2008
kemerdekaan itu bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan itu berwarna merah
putihnya terpahat peluh dan darah
mengintip tiap lorong sejarah
mengalir bagai gemericik air
hingga ke lubuk terpencil
ia bernama sanubari
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan itu terus merekah
rebahkan tanah - tanah merah
bertumbuhanlah
pepohonan kaku bernama
bangunan kokoh berkaca
"MERDEKA ATAOE MATI !"
bila kemerdekaan berganti wajah
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu
karena sanubari
tak lagi ikut memekik
pekikkanlah "MERDEKA !"
yang berwarna merah
tapi pekiknya
tak mandi peluh dan darah
--------------------------------------------------------------------------------
jangan lantang bicara disini
mengungkap niat cukup di hati
kalau tidak, lidahmu terkerat nanti
gaji tersunat, anak binimu
dalam kepusingan sangat
ssst....., ssst.....!
jangan keras - keras !
ssst.....!
jangan bersuara
dengarkan katak - katak itu bicara
jangkrik menderik gelitik telinga
apa kata mereka, coba simak
rekam di benak, lantas redam
ssst.....
jangan keras - keras !
desir angin kalahkan malam
jenuh nantikan hujan tak kunjung datang
ELEGI
Oleh :
Asrul Sani
Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderi sebutir demi sebutir
Apa juga masih akan tiba,
Mesra yang kita bawa, tiadalah
kita biarkan hilang karena hisapan pasir
Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati.
Maka kami akan berduka, dan kanan
menghormat bersama kekasih kami.
Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian - tiada mungkin,
Dan sinar mata yang tiada terlupakan.
Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja,
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
mengeringkan kembang kerenyam*
Pepohonan sekali lai akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.
Laut India akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian
Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru.
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.
Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta.....
*Germanium
Mimbar Indonesia
Th III, No. 21
21 Mei 1949
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Aku niscaya,
pijar demokrasi suatu saat akan memancar di penjuru negeri.
aku bersaksi,
suatu saat pedang kebenaran
akan menaklukkan kekuasaan sang penindas.
untuk kesaksianku ini,
biarlah aku menahan lapar dan kehausan,
biarlah sukmaku diliputi amarah,
biarlah senjata resim kezaliman menikam dadaku,
biarlah juga penjara menjadi rumahku,
aku tak peduli.
aku amat niscaya,
di belakangku anak cucu generasi negeri ini,
akan terus melanjutkan pergerakan.
maklumat pergerakan,
untuk tegaknya kebenaran dan keadilan,
adalah aliran darah,
yang tak akan berhenti.
SAMARINDA, JANUARI 1995
(adaptasi ilham dari demo mahasiswa di tiananmen tahun 1986)
--------------------------------------------------------------------------------
Pada negeri ini kami lahir,
sebagai bangsa yang merdeka,
sosok raga yang berdaulat,
dayak kami menyebutnya,
borneo benua leluhur
saksi sejarah belantara perkasa
realita sejarah terus berputar,
kehidupan manusia niscaya bergulir,
sejak ape bungan tana sosok perempuan pertama,
hingga megawati soekarnoputri
serta sosok lain yang belum terlahir,
membuahkan ketidakpastian.
adalah suatu keniscayaan,
sesuatu di dunia ini pasti berubah,
yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.
pembangunan telah melahirkan penghancuran.
modernisasi telah melahirkan marginalisasi.
ilmu pengetahuan tak lagi memiliki nurani.
teknologi tak lagi memiliki budi pekerti.
rakyat tak serta merta menentukan gelombang perubahan.
kekuatan yang menindas telah memainkan peran.
betapa dasyat maknanya,
manusia telah kehilangan kemanusiaannya.
hanya ada dua pilihan :
lawan atau kawan.
kesaksian abad klimaks,
mencari kepastian,
di negeri merdeka, benarkah ada kemerdekaan ?
di negeri merdeka, benarkah ada keadilan ?
PONTIANAK, 15 MEI 1995
--------------------------------------------------------------------------------
ROEDY HARJO WIDJONO AMZ
"LELAKI PENUNGGANG GELOMBANG"
( PUSTAKA SASTRA - JULI 1997