Awie

Rabu, 17 Februari 2010

Membohongi Cinta


maaf kan aku.
aku meninggalkan mu, tanpa sebab.
tapi aku takut kau sakit hati kepadaku
aku mencintaimu dan aku menyayangimu
kau wanita pintar dan aku lelaki bisa
kau cantik.pasti bnyk lelaki yang lebih jauh dariku.
tapi kau menerimaku
aku takut kau sakit hati kepadaku.
kata-2 yang dulu pernah ku katakan kepadamu.
itu semua bohong.
aku berbohong kepadamu,karnah aku cinta kepadamu
aku takut kehilangmu.
tapi aku sangat bersalah
kepadamu.
aku mencintaimu dengan kata-2 yang bohong kepadamu.
aku berusaha menjauh darimu
tapi itu semua berat rasanya untuk ku.

kalau kau tau sypa aku sebenarnya,
pasti kau akan menangis.
dan kau akan menamparku dan memukulku
aku tau pasti semua itu akan terjadi
tapi aku sangat mencintaimu
kau selalu ada di dalam mimpiku
kau selalu ada di dalam hatiku

maaf kan aku sayang….

Kamis, 08 Oktober 2009

Entah saja - sedikit mengenai awal


Saya hanya ingin mengurai apa yang bisa dan seharusnya saya rasakan,
saya ingin ini adalah senandung untuk saya mengikuti irama hati saya,......
menjadi kanvas untuk menumpahkan yang tercipta di hati....
dan yang penting,
sebagai prasasti yang bisa saya kenang nantinya
Saya berharap saya akan terus menciptakan jejak jelajah rasa saya di sini.....

Maret 20, 2009

Sketsa hidup yang usang

.

Dalam titian rindu yang meranah pijak akan kegoyahan, berulang kali semangat itu ia topang dengan kegetiran. Ia kerap menangis di belakang tawanya. Ia sering tesenyum pahit di sela kumandang syukur alunan semesta. Ia yang belakangan hari merasa hampa.

Apa yang termakna dalam pikir ia ?

Debu kota malam adalah kegelisahan kehidupan dari ratusan manusia yang terlupa. Adit kecil yang tersungkur di emper bangunan tua seorang Madame Tia, berkawan dengan sebotol kosong anggur dan – beberapa - potongan cerutu ganja yang terhisap pula ampasnya. Atau kehadiran penjual mie ayam yang penuh harap mencari manusia lapar di hamparan malam. Pak Bendu yang tertidur di kuda roda tiganya. Penumpangnya masih setia melayani ‘ sang tamu ‘ di kamar surga.

Akh, ia semakin sering menggigit bibir mungilnya. Bahwa hidup itu adalah takdir bagi yang terpinggirkan.
Bila hidup itu adalah jalinan mimpi dan ribuan harap selayak bintang, maka hidup bukan untuk ia.

“ Maka berbicaralah kita akan cinta “, khayalnya membentuk jalinan rumit akan mimpi seorang srikandi. Beribu Arjuna telah ia suguhkan tarian pengabdian, selayak Drupadi yang menari, tertelanjangi keangkuhan dasartha.

ia tak lagi merasa cinta,

Dirinya lah seorang cinta kepada anaknya yang kini mulai mengeja Iqra di samping Ibunya yang kian renta.
Dirinya lah seorang cinta akan seorang laki – laki yang menjauh di saat kritis teriaknya di ambenan bidan desa.
Dirinya lah cinta yang berpeluh itu.

Hingga kota menawarkan takdir untuk ia.
Bahwa hidup adalah pertahanan.
Bahwa hidup adalah panggung sandiwara,
maka ia lakoni sandiwara itu – kini.

Dan seperti malam yang telah berlalu, malam yang sama sejak tiga tahun yang mengenang derita. Seorang arjuna datang.
Menawar cintanya,…
Menggamit lengannya,
membawanya pergi…..

Membawanya ke sepucuk cinta yang – coba - ikhlas ia persembahan untuk Anak dan Ibu nya.

Selasa, 26 Mei 2009

Aku Kenal

(Karya : Abdul Haris Awie Feat Muh Idris)

Aku kenal Lassarro laspansani,
Aku kenal Fransisco Redi,
Aku kenal Louis Pasteur dengan Omne vivo ex Ovum, Omne Ovun Ex Vivo serta Omne Vivo Ex Vivo,
Aku kenal Luca Paciolo dengan Teori Akuntansinya menciptakan para akuntin hebat,
Aku kenal Carles Darwin Penemu teori evolusi,
Aku kenal Alexander Plato dengan falsafah,
Aku kenal Arsitoteles pun jadi filsuf,
Tapi mereka tak jadi pakar tanpa Umar Bakri

Aku tahu Newton dengan hokum grafitasi,
Aku tahu Hipocrates dengan teori kedokterannya,
Aku tahu Thomas Alfa Edison penemu bola lampu,
Aku tahu Arcimedes,
Mereka tak akan jadi apa-apa tanpa Umar Bakri

Aku mengerti siapa Edwin Aldrin,
Aku mengerti siapa Neil Amstrong menjadi penjelajah bulan,
Aku mengerti siapa Orvile Wright penemu pesawat terbang,
Aku mengerti siapa Cristoper Columbus menemukan pulau Amerika,
Aku mengerti siapa Macopolo dengan penjelajahan belantara lautan diseluruh negeri
Namun mereka tak akan mengelilingi dunia bahkan tak akan bisa menembus bulan tanpa Umar Bakri
Ada karakter Washinton,
Ada karakter Abraham Lincoln,
Ada karakter Soekarno dengan gaya oratornya,
Ada karakter Sonia Gandhi, Indira Gandhi
Ada karakter Saddam Husain,
Ada karakter Bennezier Bhutto,
Ada karakter John F Kennedy,
Mereka adalah jelmaan Umar Bakri

Ada Karl Marx dan Lenin dengan paham komunis,
Ada Aidit dan Untung dengan gerakan komunisnya,
Ada adolf Hittler dengan sejarah pembantaiannya,
Masih pula kita ingat Rafles dengan korban 40.000 jiwa

Jangan sebut mereka jelmaan Umar Bakri,
Karena Umar Bakri berdiri diatas Nuraninya,
Berjalan diantara logika dan berpegang teguh pada pengabdian.

Aku pula masih menatap dengan nurani,
Para Umar Bakri dengan tapak kakinya menyusuri jalan2 pengabdian hingga diujung sunyi dusun dengan sepi,
Masih pula dengan nurani dan segala kearifan local,
Tanpa harus bertanya “dengan tinta apa nama mereka ditulis”

Aku bahkan sadar betapa kita telah berhutang budi pada mereka
Para Umar Bakri dengan segala ketulusannya.

Uluere, 2 Mei 2009

BUKIT MENGINTAI

Ketika itu aku diatas roda-roda,
Menanjak dijalan berliku,
Melawan cuaca dingin merusuk kejantung,
Pesonamu membuatku terhanyut.

Diatas roda-roda aku terus meringkik,
Dikau bak perawan yang tak tersentuh
Tak terjamah, tak ternoda,
Bukit mengintai dialam,

Aku menghela nafas nafas kehidupan
Di deretan pohon pinus,
Embun mengepung lereng gunung,
Dingin seakan lagu manis,
Yang mendendangkan rintik senar dan dawai irama,
Pada alam dengan seribu pesonan,

Aku sadar akan tatapanmu,
Menyeret pada cakrawala, hingga bertemu di buai mahkota dan tahta, betapa kau tak tersentuh

Uluere, 1 Mei 2009

KETIKA AKU BERDIRI DISINI

KETIKA AKU BERDIRI DISINI
(Abdul Haris Awie)

Ketika aku telah berdiri disini,
Berarti aku siap menerima kenyataan,
Ketika aku telah berdiri disini,
Berarti sesaat kemudian aku menatap lambaian tanganmu.

Ketika aku telah berdiri disini,
Berarti aku siap menyeka airmata,
Di bilur-bilur waktu ketika tak mampu menahan waktu,
Ketika tak ada yang mampu menghindar.

Ketika aku telah berdiri disini,
Genap sudah sebulan aku labuhkan,
Genap sudah sebulan aku menapaki,
Genap sudah sebulan kita duduk bersama,
Makan bersama, tertawa pada alam bersama, bahkan menangis bersama

Alam Cipar dengan Muntea yang dekat dimata jauh dikaki,
Alam Buakang Paliang dengan lekukannya,
Alam Lannying yang membentur dingin,
Alam Bangkeng Bonto dilembah Gunung Susu.

Entah pula Gunung Loka yang bersahaja,
Loka yang ramai,
Selayar yang tersipu malu,

Kita Ke Talakayya yang terbuka
Hingga hinggap di Bungung Barua yang pendiam.

Ketika aku telah berdiri disini,
Mereka kenangan manis yang tertoreh,
Mereka adalah kenangan terindah yang tak terlupa oleh putaran zaman,
Mereka adalah wujud elegi-elegi

Masih teringat peristiwa Parring-parring, ketika melihat 14 orang anak bangsa terkapar kelaparan ditengah pendataan penduduk.

Jika aku atau kau atau mereka menangis, itu bukan berarti penyesalan diujung waktu.
Betapa pengabdian adalah ujian,
Mereka warga parring-parring, muntea juga manusia seperti kita yang duduk disini,

Uluere, 22 Mei 2009

LAKSANA KUTUB UTARA

LAKSANA KUTUB UTARA

(Abdul Haris Awie)

Tulang-tulang terasa tertusuk hingga ke zumzum,

Pakul pukul 5 dingin merusuk,

Pukul 7 pagi masih dingin,

Pukul 9 pun masih dingin,

Pukul 3 sore juga dingin,

Hingga pukul 5 sore belum juga mandi Karena takut dingin.

Laksana kutub utara,

Meski jaket berlapis-lapis,

Tak ada kehangatan meski kaki telah terbungkus,

Laksana kesebelasan sepak bola yang lagi turun minum,

Selimut hanyalah sekedar pelipur lara.

Uluere, 5 Mei 2009

Senin, 02 Maret 2009

Oleh..... tangis

Sore itu aku melihat,
Seraut wajah tegar yang kukenal,
Datang menghampir, dengan urai air mata
Mengeluh pada tatapannya yang dingin,

Butiran-butiran airmata bak berlian,
Keluar dari matanya yang bening,
Aku terhenyak terhanyut,
Namun aku tetaplah aku,
Takkan bergetar oleh tangis.

Maafkan daku sang penyair,
Melukai hatimu tanpa niat melenyapkan seluruh kata
Diusur waktu, sampai senja itu aku pergi

Makassar, 29 Januari 2009

ANDA BISA BERGABUNG DISINI

Anda punyi karya sastra (puisi)? jika anda ingin jadi penulis, kirim email anda ke alamat email admint awie_ners@yahoo.com Anda Bebas "Menulis"